Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan dalam Tangkal Hoaks Vaksin Covid-19

Ilustrasi. (foto istimewa)

Penulis: Eggi Paksha

TVRINews, Jakarta                                                                                           

Virus Covid-19 telah setahun menyambangi Indonesia. Pada 2 Maret nanti tepat 1 tahun kasus pertama Covid-19 terdeteksi di Indonesia. Saat ini Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk memperlambat laju penyebaran virus dengan menerapkan Gerakan 3M (Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak) dan juga melakukan vaksinasi secara bertahap.

Akan tetapi, pelaksanaan vaksinasi ini belum disambut positif oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dikarenakan vaccine hesitancy yang masih banyak di kalangan masyarakat.

Vaccine hesitancy merupakan keengganan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin dan imunisasi menjadi penghambat terbesar upaya melindungi masyarakat dari berbagai penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Vaccine hesitancy muncul dari banyaknya misinformasi dan informasi hoax yang beredar dan meresahkan masyarakat terkait vaksinasi ini. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), bersama Komisi Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) memberikan cara untuk menangkal hoax mengenai vaksinasi Covid-19, yang disampaikan dalam webinar “Vaksinasi Covid-19 untuk Keluarga, Antara Kebutuhan dan Harapan”.

Dilla Amran, Tenaga Ahli Madya Kantor Staf  Presiden yang turut menjadi salah satu pembicara pada webinar ini. “Penanganan Covid-19 membutuhkan kerja sama dari semua pihak. Pemerintah tidak sendiri dalam penanggulangan Covid-19. Termasuk juga dalam mengejar cakupan vaksinasi hingga 70 persen populasi agar tercapai herd immunity. Kami menebar semangat gotong royong bersama media, pakar, dunia usaha dan terutama komunitas untuk terus dan berperan menyebarkan info yang baik dan benar kepada masyarakat, agar vaccine hesitancy bisa ditekan dan masyarakat bersemangat untuk divaksin,” katanya.

Menurut Aribowo Sasmito, Co-Founder & Fact-Check Specialist MAFINDO/Siberkreasi mengungkapkan saat ini sudah mulai terjadi infodemik, yakni informasi berlimpah terkait vaksinasi covid-19. Termasuk, ditambahkannya, upaya disengaja untuk memajukan agenda setting suatu kelompok.

"Infodemik ini tidak kalah berbahaya dengan pandemik itu sendiri karena banyak terdapat informasi-informasi tidak tepat (hoax) yang dapat menggiring opini publik terhadap vaksinasi, dan semakin parah dapat menggagalkan program vaksinasi yang menjadi solusi penanganan pandemi saat ini,” imbuhnya.

“Saat ini situs resmi Covid-19 dari pemerintah telah memiliki fitur pencarian dimana masyarakat bisa mendapatkan informasi akurat mengenai vaksinasi dan juga perkembangan kasus Covid-19 di situs tersebut. Selain itu saat ini sudah ada fiturs mesin pencari anti hoax untuk mencari hoax yang sudah dibantahkan. Masyarakat juga bisa bertanya di chat bot  antihoaks MAFINDO dengan menggunakan kata kunci dan kirim ke nomor 085921600500,” tutup Aribowo.

Masyarakat Indonesia juga bisa mengakses  s.id/infovaksin untuk mendapatkan informasi berimbang seputar vaksin, mengecek kebenaran informasi yang beredar serta peraturan terbaru mengenai vaksin dan covid-19.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangkal informasi hoax vaksinasi Covid-19, sebagai berikut:

  1. Jaga Emosi

Emosi sangat mempengaruhi kita dalam menerima informasi. Setinggi apapun jabatan dan intelektual seseorang, jika menerima informasi dengan emosi maka intelektualitas mereka hilang. Jadi sangat mudah terpengaruh dengan berita yang tidak benar.

  1. Pahami 5W1H

Tidak hanya wartawan atau media yang harus memahami dengan benar apa itu 5W1H (What, Where, When, Why, Who & How - Apa, Dimana, Kapan, Kenapa, Siapa, & Bagaimana), tetapi sebagai masyarakat, sudah saatnya untuk memahami konsep 5W1H ini guna memperoleh informasi yang berimbah dan akurat dan tidak mudah termakan oleh hoax.

  1. Perbaiki Literasi

Jangan malas untuk membaca setiap informasi yang kamu terima. Teliti dengan sumber informasinya dan jangan hanya sekedar menyebarkan informasi tanpa menyaring dulu pesan yang ada di dalamnya.

  1. Cek Fakta

Jika mendapatkan foto, video atau tautan berita, jangan malas untuk mengecek keaslian foto dan video serta sumber berita tersebut. Kamu bisa bisa menggunakan google atau pencarian gambar dan video untuk memastikan video dan foto yang kamu dapatkan merupakan kejadian yang sebenarnya. Untuk tautan berita, lihatlah dengan teliti apakan berita tersebut berasal dari media yang benar bukan abal-abal.

  1. Hati-hati dengan kalimat pembuka yang provokatif

Kalimat pembuka provokatif menjadi salah satu penyebab penyebaran informasi hoax semakin luas di masyarakat. Kata-kata yang marak digunakan adalah “viralkan”, “sebarkan”, “bagikan” bahkan ada yang menggunakan kata ancaman.

Editor: Eggi Paksha

Daerah