Reporter: Christhoper Natanael Raja
TVRINEWS, Jakarta
Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) menyatakan kesiapannya atas perpindahan dari siaran analog menuju digital. Direktur Utama LPP TVRI Iman Brotoseno menyampaikan sebagian besar siaran TVRI sudah digital terutama di daerah.
Disebutkan Iman, sebagai contoh adalah penerapan siaran digital di Jawa Tengah, dalam penayangan program belajar dari rumah tahun lalu. Menurutnya, tidak ada komplain dari masyarakat di Jawa Tengah terkait kebutuhan set top box (STB) atau masalah televisi mereka tidak bisa mengakses digital. “Artinya masyarakat sudah paham dan terbiasa dengan siaran digital di TVRI, tapi memang kami dapat penugasan di negara sebagai penyelenggara multiplexing,” kata Iman dalam acara Bersiap Digital: Sambut Tahap Pertama ASO dari Aceh, Rabu (9/6/2021).
Iman menegaskan TVRI selalu mendukung kebijakan dari negara dan mengapresiasi Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate serta Ketua Komisi I DPR yang telah membuat regulasi. “Sehingga, siaran di TV Nasional ini terwujud. Kami memang sadar di kawasan Asia Tenggara bahkan dunia tertinggal. Kami memang terlambat tapi better late than never,” ujar Iman.
TVRI menyiarkan siaran digital dan analog sekaligus, menurut Iman, karena ada beberapa kelompok masyarakat atau daerah yang sebenarnya mungkin masih menggunakan TV analog, maka TVRI tetap siaran secara dualcast. “Tapi begitu kami masuk time frame yang sudah disepakati pemerintah maka harus mematikan analog itu. Otomatis semua akan digital,” tutur Iman.
Sejauh ini TVRI memiliki sekitar 361 pemacar. Sehingga secara jangkauan, disebutkan Iman, jauh lebih luas dan sebagian sudah dialihkan ke digital. Sejauh ini ada 120 pemancar yang bisa menjangkau hingga 78 persen dari sekitar populasi di Indonesia.
Ia berharap dengan digitalisasi ini akan bertambah sampai 92 persen untuk menjangkau populasi di Indonesia. Kekuatan TVRI adalah jangkauannya lebih luas dibanding TV lain dengan coverage area lebih luas sampai perbatasan hingga wilayah terluar.
Editor: Eggi Paksha










