
Di lokasi tersebut juga ditemukan ribuan pokok kelapa sawit dan jeruk masyarakat yang sudah rusak dan ditumbangi.
Penulis: Andika
TVRINews, Pasaman Barat
Ratusan petani yang mengolah lahan di daerah Banjar Batang Alin nagari Muara Kiawai kabupaten Pasaman Barat Sumatera Barat kecewa dan meminta keadilan karena pokok kelapa sawit dan jeruk mereka dirusak dan dibunuh oleh karyawan PT Anam Koto dengan cara diracun dan ditumbangi menggunakan mesin pemotong.
Sabtu siang (27/11) sempat terjadi adu argumen di lahan tersebut, karena petani menemukan puluhan pekerja dari PT Anam Koto yang sedang bekerja di lahan sengketa tersebut.
Beberapa pekerja terlihat membawa alat untuk membersihkan kelapa sawit dan ditemukan satu jerigen cairan diduga untuk meracuni sawit masyarakat.
Di lokasi tersebut juga ditemukan ribuan pokok kelapa sawit dan jeruk masyarakat yang sudah rusak dan ditumbangi.
Tokoh masyarakat setempat Basrah Lubis mengatakan, aktivitas pertanian dilahan itu sudah dimulai masyarakat Manggonang Jorong Sungai Tanang kecamatan Sungai Aur sejak tahun 1963 oleh keluarga mereka.
Hingga hari ini, Minggu (28/11), kehadiran PT Anam Koto mengklaim lahan mereka masuk HGU hingga melakukan perusakan sangat mengganggu masyarakat, bahkan saat ini sekitar 57 hektar lahan dengan ribuan pokok tanaman sudah dirusak oleh perusahaan.
Masyarakat meminta, aktivitas perusahan di lahan tersebut dihentikan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena masyarakat mengalami kerugian yang sangat besar. Sementara itu, pekerja mengaku hanya menjalankan perintah dari perusahaan karena dinilai berada di dalam HGU.
Salah seorang pemilik lahan Am Afandi mengaku kelapa sawit dan tanaman lain miliknya diracun dan ditumbangi oleh karyawan PT. Ia mengalami kerugian ratusan juta rupiah dan meminta pihak berwajib bisa memproses kasus perusakan ini.
Sementara itu salah seorang pengawas yang berada di lapangan mengaku bekerja sesuai dengan perintah dari perusahaan.
Masyarakat meminta pemerintah dan instansi terkait hadir dan adil dalam masalah ini sebab ratusan keluarga mengantungkan hidupnya dengan berladang dan bertani di daerah itu.
Editor: Desi Krida
