TVRINews – Gaza
Krisis Ekonomi dan Blokade Total Batasi Ibadah Haji Serta Tradisi Kurban Warga Palestina
Masyarakat Palestina di Jalur Gaza menyambut Hari Raya Iduladha dalam dekapan pilu. Blokade total dan eskalasi konflik yang berkepanjangan tidak hanya melumpuhkan wilayah tersebut, tetapi juga mengikis tradisi suci umat Islam yang biasanya dirayakan penuh suka cita.
Bagi sebagian besar warga, Iduladha kali ini dilalui tanpa hewan kurban, tanpa keberangkatan haji, dan di bawah bayang-bayang duka mendalam.
Pembatasan ketat di pintu-pintu perbatasan membuat seluruh calon jemaah haji dari Gaza batal menunaikan ibadah ke Tanah Suci. Salah satu warga yang terdampak adalah I’tidal Hamdan (68).
Wanita lanjut usia yang kini tinggal di tenda pengungsian ini semula dijadwalkan berangkat haji bersama suaminya tahun ini. Namun, takdir berkata lain setelah suaminya wafat akibat serangan udara pada tahun 2025 lalu.
"Mungkin saya sudah memimpikan hal ini selama lebih dari sepuluh tahun," ujar Hamdan kepada Al Jazeera. "Suami saya sangat ingin menunaikan ibadah haji, namun ia berpulang sebelum impian itu terwujud."
Kehilangan yang dialami Hamdan mencerminkan nestapa kolektif warga Gaza. Selain kehilangan suami, dua putra dan enam cucunya juga menjadi korban dalam peristiwa terpisah selama konflik berlangsung.
Kelangkaan Hewan Kurban dan Lonjakan Harga
Selain pembatalan ibadah haji, tradisi penyembelihan hewan kurban hampir dipastikan absen bagi mayoritas keluarga di Gaza. Berdasarkan data dari Kamar Dagang dan Industri Gaza, sektor peternakan lokal mengalami kerusakan masif hingga lebih dari 90 persen akibat hantaman konflik dan keterbatasan pasokan pakan.
Kebijakan penutupan akses oleh otoritas Israel juga menghentikan total impor hewan ternak hidup ke dalam wilayah kantong tersebut.
Dampaknya, harga hewan ternak yang tersisa di pasar melonjak hingga ke tingkat yang tidak rasional bagi kemampuan ekonomi warga lokal.
Emad Suhweil (43), seorang ayah dari lima anak yang mengungsi dari Beit Lahiya, menuturkan bagaimana inflasi ini telah merenggut esensi perayaan Iduladha yang biasa ia rasakan.
"Setiap tahun kami terbiasa berkurban, berbagi kebahagiaan, makan bersama, dan membagikannya kepada fakir miskin," kata Suhweil.
"Sebelum konflik, seekor domba berharga sekitar 400 hingga 500 dinar Yordania (setara Rp 8,8 juta–Rp 11 juta). Sekarang, harganya melambung menjadi 16.000 hingga 17.000 shekel (setara Rp 69 juta–Rp 73 juta) untuk hewan seberat 50 kilogram yang kondisinya pun sangat kurus."
Suhweil menambahkan bahwa jangankan membeli hewan kurban, sebagian besar kepala keluarga saat ini kesulitan hanya untuk membeli dua kilogram sayuran akibat daya beli yang merosot tajam.
Merindukan Normalitas di Tengah Keterbatasan
Kondisi serba terbatas ini juga mengubah total lanskap sosial budaya yang biasanya melekat pada Iduladha, seperti membeli pakaian baru untuk anak-anak atau saling mengunjungi antar-keluarga. Sebagian besar warga kini menghabiskan waktu berjam-jam di antrean bantuan kemanusiaan demi mencukupi kebutuhan pokok harian.
Sentimen serupa disampaikan oleh Fawzi Hamdan (63), ayah dari tujuh anak. Ia mengisahkan bagaimana krisis pangan memaksa warga melakukan penyesuaian yang memprihatinkan dalam ritual keagamaan mereka.
"Kami terisolasi. Tidak bisa keluar, tidak bisa haji, tidak bisa berobat, bahkan tidak bisa melakukan aktivitas normal," ungkap Fawzi Hamdan. "Tahun lalu, saya mengganti hewan kurban dengan daging kalengan. Tahun ini saya tidak tahu. Mungkin kami hanya bisa menyembelih seekor ayam atau membeli daging beku."
Meskipun menghadapi kesulitan yang tampak mustahil diatasi, keteguhan hati tetap tersisa di antara para pengungsi. Intisar Awda (56), seorang ibu yang kehilangan putri dan tiga cucunya yang kini terpisah-pisah, menyatakan bahwa situasi ini mengajarkannya arti ketabahan yang sesungguhnya.
Kpeada Al Jazeera Intisar Awda ia mneceritakan harapnya, "Kami mengungsi dan mengalami penderitaan yang luar biasa, namun kami tetap merawat harapan di tengah semua kehilangan ini," tutur Awda. "Saya berharap Iduladha berikutnya hadir tanpa peperangan."










