TVRINews – Buenos Aires, Argentina
Lionel Messi resmi menutup lembaran karier internasionalnya bersama Tim Nasional Argentina dalam sebuah laga perpisahan emosional di Stadion Monumental, mengakhiri dua dekade penuh magis, kritik, dan penebusan di atas lapangan hijau.
Perjalanan panjang Lionel Messi mengenakan seragam putih-biru langit resmi berakhir pekan ini. Di hadapan pendukung setianya di Stadion Monumental, Buenos Aires, sang maestro menyelesaikan pertandingan terakhirnya melawan Tim Nasional Benin pada Rabu 7 Oktober 2026.
Momen tersebut menandai penutupan sebuah era yang oleh sebagian pengamat sepak bola global digambarkan sebagai sebuah misteri sakral antara seorang pemain dan bangsa yang sangat mencintainya.
Karier internasional peraih delapan gelar Ballon d'Or ini tidak pernah berjalan mulus sejak awal. Lahir dari akademi Barcelona, Messi muda nyaris memilih memperkuat Tim Nasional Spanyol sebelum ayahnya, Jorge Messi, berjuang keras meyakinkan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) untuk segera mengamankan status anaknya. Kendati tampil gemilang di level klub, penyerang berjuluk La Pulga itu sempat menghadapi gelombang kritik tajam dari publik sendiri.
Beberapa insiden kelam sempat mewarnai awal perjalanannya, mulai dari kritik karena dianggap kurang menunjukkan nasionalisme, tekanan psikologis yang berat, hingga cemoohan dari sebagian suporter. J
Jurnalis Argentina, Alejandro Wall, memberikan pandangannya terkait dinamika tersebut melalui ulasan yang dilaporkan oleh media internasional The Guardian pada Rabu 7 Oktober 2026.
"Karakteristik utama Messi di tim nasional adalah kekalahan. Ia kalah berkali-kali, dan ia dibentuk dari kekalahan tersebut," ujar Wall menggambarkan jatuh bangun sang kapten.
Meski demikian, transformasi besar terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah kemenangan di ajang Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022. Komentator dan penulis asal Brasil, Milly Lacombe, menyoroti bagaimana magis Messi melampaui sekadar urusan taktik di atas lapangan.
"Apa yang dilakukan Argentina di Piala Dunia ini berada pada tatanan yang sakral," tulis Lacombe, merefleksikan kompleksitas dan kedalaman emosi yang dihadirkan oleh sang kapten bagi jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Pertandingan perpisahan melawan Benin diwarnai berbagai rangkaian acara penghormatan, mulai dari penganugerahan gelar doktor kehormatan dari Universitas Buenos Aires hingga pertunjukan seni di stadion.
Meski sempat diwarnai kritik terhadap aspek komersial laga tersebut, suasana berubah menjadi haru ketika sang kapten mengambil mikrofon untuk menyampaikan pidato perpisahannya di hadapan publik yang memadati stadion.
"Kami memiliki impian untuk mewujudkan mimpi kami. Saya tidak tahu lagi, saya berbicara lebih banyak dari biasanya. Saya tidak ingin pergi dari sini. Aku mencintaimu," ujar Messi di hadapan publik yang menyambutnya dengan sorak-sorai penuh emosi dan rasa terima kasih.
Dengan berakhirnya laga ini, dunia sepak bola internasional kini mulai menuliskan babak akhir dari salah satu karier paling gemilang dalam sejarah olahraga. Dari seorang anak muda pemalu asal Rosario hingga menjelma menjadi legenda abadi, perjalanan Lionel Messi bersama Argentina telah meninggalkan warisan yang melampaui batas-batas permainan sepak bola itu sendiri.










