TVRINews, Papua Selatan
Kementerian Transmigrasi bersama Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia menjajaki kerja sama pengembangan pertanian modern di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kolaborasi ini difokuskan pada peningkatan produktivitas pertanian guna mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan penguatan sektor pertanian di Salor menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), khususnya di bidang kedaulatan pangan dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Iftitah mengungkapkan, hasil riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2025 menemukan sejumlah tantangan yang masih dihadapi petani di kawasan tersebut. Hal tersebut disampaikannya dalam kunjungan kerja bersama Duta Besar RRT untuk Indonesia, Wang Lutong, Selasa, 2 Juni 2026.
Menurutnya, persoalan yang perlu mendapat perhatian meliputi ketersediaan bibit unggul, pengendalian hama, perbaikan sistem irigasi, pembangunan jalan usaha tani, hingga dukungan fasilitas perawatan alat pertanian.
"Kami menemukan beberapa faktor yang memengaruhi produktivitas pertanian, mulai dari masalah bibit, hama, irigasi, hingga jalan usaha tani. Pemerintah daerah juga mengusulkan adanya bengkel untuk mendukung operasional alat pertanian," kata Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 2 Juni 2026.
Kawasan Transmigrasi Salor yang memiliki luas sekitar 40.000 hektare dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu lumbung pangan strategis di wilayah timur Indonesia. Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur yang memadai, kawasan ini diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan secara signifikan.
Sementara itu, Duta Besar RRT untuk Indonesia, Wang Lutong menyampaikan kekagumannya terhadap potensi pertanian yang dimiliki Merauke. Ia menyebut tim ahli pertanian dari Tiongkok yang sebelumnya berkunjung ke wilayah tersebut juga melihat peluang besar untuk pengembangan pertanian modern.
Selain peningkatan produksi pangan, kedua pihak turut membahas kemungkinan pengembangan industri pendukung pertanian, termasuk pembangunan fasilitas produksi alat dan mesin pertanian di Merauke.
Wang menegaskan pihaknya siap mendukung pemanfaatan teknologi pertanian Tiongkok untuk membantu pengembangan sektor pertanian di kawasan tersebut.
Tak hanya fokus pada teknologi dan infrastruktur, kerja sama yang dibahas juga mencakup pengembangan sumber daya manusia. Kementerian Transmigrasi mendorong peningkatan akses pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat Papua agar mampu mengelola sektor pertanian dan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Iftitah menegaskan, arah kebijakan transmigrasi saat ini telah bergeser dari sekadar perpindahan penduduk menjadi pengembangan kawasan berbasis peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
"Kami ingin mendatangkan orang-orang yang memiliki kompetensi dan pendidikan yang baik untuk membantu masyarakat Papua mengelola potensi sumber daya alam yang dimiliki," ucapnya.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah berharap kawasan transmigrasi di Papua Selatan dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan.










