TVRINews – Washington
Pemerintah Washington terus mempertahankan gelontoran dana serta pasokan alutsista untuk Israel meski situasi kemanusiaan di Gaza kian memburuk.
Tiga tahun konflik berkepanjangan di Gaza, dukungan resmi Amerika Serikat terhadap Israel dilaporkan tidak mengalami perubahan signifikan. Pemerintah Washington, yang melintasi masa pemerintahan mantan Presiden Joe Biden hingga Presiden Donald Trump, terus mempertahankan aliran bantuan militer tanpa syarat sejak Oktober 2023 di tengah eskalasi regional yang semakin meluas.
Bantuan dari pihak Washington tetap berlanjut meskipun berbagai administrasi kerap melontarkan kritik ringan terhadap kebijakan militer Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kebijakan tersebut berjalan di tengah dinamika pelanggaran gencatan senjata berulang serta berbagai hambatan dalam mewujudkan perdamaian jangka panjang di kawasan Timur Tengah.
Hingga saat ini, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, jumlah korban tewas di Gaza dilaporkan telah mencapai sedikitnya 74.243 jiwa sejak eskalasi bermula, sementara korban jiwa terus bertambah seiring perluasan wilayah operasi militer Israel.
Mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang kini memimpin lembaga lobi A New Policy, Josh Paul, memberikan pandangannya terkait konsistensi dukungan tersebut.
"Intinya adalah, baik di bawah pemerintahan Biden maupun Trump, AS terus memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel, baik dalam bentuk finansial, transfer senjata, maupun dukungan diplomatik," ujar Josh Paul dikutip Al Jazeera Rabu 7 Oktober 2026.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi ini turut memperhitungkan beban biaya dari berbagai keterlibatan militer Amerika di kawasan tersebut yang dinilai berkaitan erat dengan sokongan terhadap kebijakan Israel.
Dimensi Finansial dan Aliran Senjata
Amerika Serikat tercatat telah menggelontorkan bantuan militer raksasa senilai hampir $300 miliar sejak tahun 1948 jika disesuaikan dengan tingkat inflasi. Kebijakan ini diperkuat melalui kerangka hukum tahun 2008 yang mewajibkan pemerintah AS untuk memastikan Israel tetap mempertahankan Keunggulan Militer Kualitatif (Qualitative Military Edge / QME) di kawasan.
Sejak Oktober 2023, Washington telah menyetujui setidaknya $25,5 miliar dalam bentuk alokasi dana langsung dan sekurang-kurangnya $33,16 miliar dalam transfer senjata. Sejumlah kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, secara konsisten menyoroti keterlibatan amunisi buatan AS dalam jatuhnya korban sipil di Gaza.
Analis pertahanan William Hartung menyoroti tanggung jawab moral dan hukum dari pasokan senjata tersebut.
"Karena krisis kemanusiaan di Gaza dan besarnya pasokan senjata dari AS, tidak bisa dipungkiri bahwa Amerika memiliki tanggung jawab besar," kata William Hartung kepada media.
Di sisi lain, anggota parlemen pro-Israel di Kongres berupaya mengintegrasikan kerja sama militer kedua negara secara lebih permanen melalui Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act / NDAA) tahun fiskal 2027 guna mengantisipasi pergeseran opini publik domestik.










