TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat transformasi pelayanan kesehatan primer melalui penyelenggaraan Leimena Conference 2026: Indonesia Primary Health Care Scientific Meeting. Forum ilmiah yang digelar di Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Senin, 27 Juli 2026, menjadi wadah berbagi praktik baik, inovasi, dan hasil penelitian dalam penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan transformasi pelayanan kesehatan primer merupakan bagian dari reformasi sistem kesehatan nasional yang telah dijalankan sejak pascapandemi COVID-19. Pendekatan pelayanan kini berfokus pada siklus hidup masyarakat, bukan lagi berbasis program.
Menurutnya, model tersebut telah diujicobakan di sembilan lokasi pada 2022–2023 dan kemudian ditetapkan sebagai standar nasional melalui Keputusan Menteri Kesehatan pada 2024.
Saat ini, sebanyak 9.000 puskesmas atau sekitar 87 persen dari total puskesmas di Indonesia telah menerapkan transformasi pelayanan kesehatan primer tersebut.
Selain di puskesmas, Kemenkes juga memperkuat transformasi layanan di Posyandu. Sejak 2023, pemerintah telah melakukan pendataan kader kesehatan dan kini memiliki basis data sekitar 1,5 juta kader Posyandu beserta kompetensinya.
Maria menyebutkan, sebanyak 303.209 Posyandu telah aktif menerapkan pelayanan berbasis siklus hidup. Posyandu aktif didefinisikan sebagai Posyandu yang rutin membuka layanan setiap bulan dan memiliki kader kesehatan yang aktif bertugas.
Kemenkes juga telah menyusun standar 125 keterampilan dasar bagi kader Posyandu. Hingga kini, sekitar 485 ribu kader telah mengikuti penilaian kompetensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Kemenkes juga mengumumkan peluncuran pedoman pelayanan kesehatan di tingkat desa dan kelurahan yang akan mulai diterapkan tahun ini. Pedoman tersebut dirancang agar tenaga kesehatan mengenali karakteristik masyarakat di wilayah kerjanya secara lebih rinci, termasuk jumlah ibu hamil, lansia yang tinggal sendiri, penyandang disabilitas, serta kelompok yang membutuhkan pendampingan khusus.
"Harapannya, pelayanan kesehatan di tingkat desa menjadi lebih personal, tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,"kata Maria dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 27 Juli 2026.
Mengusung tema Integrating Research into Primary Health Care, Leimena Conference 2026 diikuti sekitar 450 peserta secara luring yang berasal dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, akademisi, serta mitra pembangunan. Kegiatan ini juga disiarkan secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube Kementerian Kesehatan.
Panitia menerima sekitar 700 abstrak ilmiah, dengan 698 di antaranya lolos proses kurasi. Sebanyak 537 abstrak akan dipublikasikan dalam prosiding konferensi, sementara karya terbaik akan diterbitkan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Untuk mendukung partisipasi dari berbagai daerah, sebanyak 80 peserta memperoleh bantuan perjalanan (travel grant) yang didukung UNICEF, WHO, dan Global Fund.
Maria menambahkan, penyelenggaraan konferensi juga mendapat dukungan dari Pemerintah Australia melalui DFAT serta Primary Health Care Consortium yang sekretariatnya didukung Bill & Melinda Gates Foundation. Konsorsium tersebut turut melibatkan sekitar 200 relawan dalam proses seleksi abstrak dan penyelenggaraan konferensi.
Melalui forum ilmiah ini, Kemenkes berharap praktik-praktik terbaik di bidang pelayanan kesehatan primer dapat terdokumentasi, dibagikan, dan diterapkan lebih luas guna memperkuat sistem kesehatan nasional.









