TVRINews – Doha, Qatar
Doha dan Paris Tekankan Kebebasan Navigasi Selat Hormuz serta Implementasi Gencatan Senjata Gaza
Qatar dan Prancis secara resmi menyerukan pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz tanpa hambatan serta mendesak realisasi penuh kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Sikap bersama tersebut disampaikan usai pertemuan bilateral antara Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Doha.
Berdasarkan pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu 21 Oktober 2026, kedua kepala negara menggarisbawahi krusialnya menjamin kelancaran jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz tanpa restriksi maupun pemungutan biaya apa pun. Langkah diplomasi ini mengemuka di tengah dinamika kawasan yang masih bergejolak.
Sebelumnya, mediator Senior Qatar, Ibrahim bin Sultan Al Hashmi, menyatakan bahwa penjajakan diplomatik terus dilakukan guna meredakan tensi regional dan membuka kembali jalur vital tersebut. Sinyal positif juga datang dari Teheran melalui Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengonfirmasi kesiapan pihaknya untuk memberi ruang bagi proses diplomasi.
Meski demikian, pemandangan politik kawasan tetap diwarnai ketegangan. Dalam dokumen resmi tersebut, Qatar dan Prancis secara tegas mengecam aksi militer Iran terhadap sejumlah negara di kawasan, yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
*Desakan Penarikan Pasukan dan Krisis Kemanusiaan Gaza*
Terkait konflik di Gaza, Al Thani dan Macron mendesak penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah pendudukan sesuai mekanisme yang telah disepakati. Kedua negara menekankan pentingnya distribusi bantuan kemanusiaan secara aman, cepat, dan tanpa hambatan guna mengatasi krisis yang makin memprihatinkan.
Kondisi lapangan di Gaza saat ini berada dalam titik kritis. Data Program Pangan Dunia (WFP) mencatat sekitar 1,4 juta jiwa atau setara dua pertiga populasi Gaza tengah menghadapi krisis ketahanan pangan tingkat akut.
Dalam konteks wilayah Palestina yang lebih luas, Doha dan Paris menolak keras segala bentuk aneksasi di Tepi Barat serta menuntut penghentian perluasan permukiman ilegal dan aksi kekerasan oleh pemukim Israel.
*Komitmen untuk Lebanon, Suriah, dan Kemitraan Strategis*
Mengenai situasi di Lebanon, kedua pemimpin menegaskan dukungan terhadap implementasi menyeluruh Kerangka Kerja Trilateral demi memulihkan kedaulatan negara, melucuti senjata kelompok Hizbullah, dan memastikan penarikan total militer Israel.
Mereka juga mengingatkan risiko kekosongan keamanan seiring berakhirnya mandat misi perdamaian PBB, sekaligus menyerukan dukungan berkelanjutan bagi otoritas dan angkatan bersenjata Lebanon.
Sementara terkait Suriah, Qatar dan Prancis menyatakan kesiapan bersama untuk mendampingi proyek stabilisasi dan pemulihan ekonomi melalui koordinasi dengan pemerintah setempat.
Kunjungan Macron ke Doha merupakan bagian dari rangkaian tur diplomatik ke beberapa negara Teluk, termasuk Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Arab Saudi. Lawatan ini dirancang untuk memperkuat kemitraan strategis, mengamankan jalur perdagangan maritim global, serta mendorong terciptanya stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.










