Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Metro

  • 0 Komentar

Satgas BLBI Sita Aset Obligor, Karyawan Terancam PHK

Satgas BLBI Sita Aset Obligor, Karyawan Terancam PHK
Satgas BLBI Sita Aset Obligor, Karyawan Terancam PHK

Penulis: Saeful Hardi

TVRINews, Bogor
Kehadiran Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD pada kegiatan Sita Aset PT Bogor Raya Development di Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, hari ini Rabu (22/6) disambut keprihatinan dari sejumlah karyawan lapangan golf, Bogor Raya Golf. 

Aset tersebut merupakan milik obligor PT Bank Asia Pasific terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Mahfud menegaskan mulai hari ini pengelolaan lapangan golf Bogor Raya serta Hotel Ibis Style dan Novotel Bogor Raya berada di bawah penguasaan negara.

Mahfud MD menyebut penyitaan aset PT Bank Asia Pasific sebagai “kemenangan” negara. Namun, tidak demikian dengan para karyawan yang menggantungkan hidupnya dari lapangan golf tersebut.

Yunita (29), salah satu caddy yang sudah bekerja dua tahun terakhir, mengaku sedih dengan masa depannya. Bekerja sebagai caddy, sangat menyokong perekonomian keluarga. Terlebih, sebagai anak tunggal, ia harus menghidupi ibunya usai sang ayah meninggal dunia.

"Saya bisa berkuliah di Universitas Pakuan karena hasil bekerja dari caddy. Saya nggak bayangin jika usai pemasangan papan penyitaan berimbas kepada pemutusan hubungan kerja. Pandemi baru saja mengurangi pendapatan, masak optimisme saya surut kembali", ungkap Yunita yang mengambil kuliah Jurusan Akutansi.

Begitupun dengan Usen Sunardi yang bekerja di bidang pemeliharaan lapangan golf. Ia juga galau dengan masa depannya. Menginjak masa kerjanya selama 27 tahun di Bogor Raya Golf, Usen berharap Presiden Joko Widodo mau mendengar suara-suara rakyat kecil seperti dirinya, agar masalah penyitaan aset perusahaan Bogor Raya Development tidak menganggu mata pencaharian mereka.

“Masak Jokowi tidak mendengar suara-suara kami? Istana Bogor tidak jauh dari tempat kami bekerja, semoga bisa melihat kondisi kami yang sebenarnya. Kasihan nasib anak, istri dan keluarga dari karyawan,” tutur Usen.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.