
Taliban Kuasai 9 Ibu Kota Provinsi di Afghanistan
Penulis: Aulia Zita
TVRINews, Afganistan
Taliban mengklaim mereka telah merebut lebih banyak ibu kota provinsi di Afghanistan dalam beberapa hari terakhir. Kini total sembilan dari 34 ibu kota berada di bawah kendali mereka.
Ini terjadi di tengah penarikan pasukan Amerika Serikat dari daerah tersebut. Sementara itu Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah menyatakan menyarankan tidak berniat untuk meninjau kembali keputusan untuk menarik pasukan dari negara yang dilanda perang. Dilansir dari Kyodo, ia mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa pasukan pemerintah Afghanistan harus berjuang untuk negara mereka sendiri.
Taliban telah menyatakan keberhasilan mereka merebut ibu kota provinsi selama enam hari berturut-turut hingga Rabu, dimulai dengan Zaranj, ibu kota Provinsi Nimruz di barat daya pada Jumat. Sebagian besar provinsi yang ibu kotanya dikuasai oleh Taliban dalam beberapa hari terakhir berada di utara dan barat negara itu.
Kelompok bersenjata tersebut mengatakan pada Selasa lalu mereka menguasai Farah, ibu kota Provinsi Farah di barat, dan Pul-i-Khumri, ibu kota Provinsi Baghlan di utara, dengan pejabat lokal mengkonfirmasi kemenangan Taliban di sana. Kemudian mereka juga mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka baru saja merebut Faizabad, ibu kota Provinsi Badakhshan di timur laut.
Pul-i-Khumri adalah titik penghubung di arteri yang menghubungkan ibu kota negara Kabul dan Mazar-i-Sharif, titik strategis terbesar di utara negara itu. Menurut seorang pejabat setempat fasilitas utama di ibu kota provinsi direbut saat pasukan keamanan ditarik ke pangkalan pasukan pemerintah di pinggiran kota. Sementara itu, di Farah, Taliban menduduki rumah gubernur dan penjara.
Konferensi internasional tentang perdamaian intra-Afghanistan diadakan di Qatar pada hari Selasa dengan perwakilan dari Amerika Serikat, Rusia, Cina dan Pakistan serta pemerintah Afghanistan.
Abdullah Abdullah, kepala dewan rekonsiliasi pemerintah Afghanistan, menyerukan dukungan dari masyarakat internasional, mengatakan dalam pidatonya bahwa Taliban telah melanggar janji untuk mempercepat pembicaraan gencatan senjata dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pemerintah Afghanistan dan Taliban mengeluarkan pernyataan bersama pada bulan Juli yang mengatakan bahwa mereka telah setuju untuk mempercepat pembicaraan, tetapi tidak ada kemajuan yang dibuat.
Editor: Dadan Hardian
Editor: Admin
