Trending

  • Jumat, 2 Desember 2022
  • Bahasa

Metro

  • 0 Komentar

Hengky Boymau, Mengadu Nasib di Papua, Kembali Tak Bernyawa

Penulis: Nyongky Malelak 

TVRINews, Kupang 

Isak tangis keluarga merobek keheningan Bandara Eltari Kupang, Nusa Tenggara Timur, saat pesawat Lion Air menepi di sudut VVIP Bandara tersebut. 

Satu per satu dari 18 peti jenazah korban kecelakaan lalu lintas di Manokwari, Papua Barat diturunkan dari lambung kiri pesawat. 

Sejenak semua terdiam menahan tangis. Hanya derai air mata menganak sungai di pipi keluarga yang menjemput para korban. 

Satu peti jenazah terpampang nama Hengky Boymau. Pejuang keluarga yang rela merantau jauh demi memperbaiki ekonomi keluarga. 

Pada enam tahun silam, pria tangguh asal Desa Kuanfatu, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan itu, berangkat ke Papua untuk mengumpulkan kepingan rupiah demi menghidupi keluarganya.

Sejak saat itu, Hengky tidak pernah kembali. Ia hanya mengirimkan uang untuk orang tuanya di kampung halaman. Bahkan sehari sebelum kecelakaan maut merenggut nyawa Hengky dan 17 orang lainnya, dia masih sempat menelpon adiknya. 

"Terakhir kakak telepon, katanya Selasa mau ke kota jadi nanti baru kirim uang untuk saya bawa kasih bapa mama di kampung," ucap Damaris Boymau, adik kandung almarhum kepada TVRINews, Jumat (15/4/2022).

Percakapan itulah yang menjadi pesan terakhir Hengky untuk segenap keluarganya. 

Di dalam pesan tersebut tersirat bahwa semua yang ia lakukan di tanah Papua adalah untuk orang-orang tercinta di Kuanfatu. 

Damaris dan beberapa orang keluarga yang menjemput jasad Hengky Boymau, tak henti-hentinya menangis. 

Saat mobil ambulance yang membawa jenazah Hengky keluar dari Bandara Eltari, tangisan keluarga dan kerabat Hengky kian pecah. 

Harapan untuk bertemu Hengky sambil berbagi cerita tentang kedamaian di Kuanfatu dan perjuangan di tanah Papua kini pupus. 

Tak ada lagi senyum dan canda, hanya derai air mata, menatap sosok tangguh yang terbujur kaku dalam kebisuan. 

Sirine ambulance pun bersahutan mengantar para pejuang keluarga kembali ke kampung halaman masing-masing untuk dikebumikan dengan layak. 

Untuk diketahui, para korban ini bekerja di perusahaan tambang PT Toko Tengah, Manokwari, Papua Barat.

Para korban ini tewas saat pergi ke Kota Manokwari. Saat di kilometer 10 Pegunungan Arfak, mobil yang ditumpangi mereka mengalami rem blom, kemudian menabrak gunung dan terguling pada Kamis (14/4) kemarin.

Berikut data Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Papua asal NTT:

1. Andre, 27 tahun (sopir truk, Atambua)
2. Servasius Lelok, 40 tahun,(Atambua)
3. Alexander Mauk Butak B. Ahoren, 43 tahun, (Atambua)
4. Ardianus Kin (Atambua)
5. Linda, 20 tahun
6. Istin Nahak, 3 tahun (balita)
7. Paulus (Atambua)
8. Hengky Boymau, 32 tahun (Kuanfatu TTS)
9. Santus (Atambua)
10. Stefanus Malik, 39 tahun (Atambua)
11. Edmon Aliando (Atambua)
12. Bernadus Nahak, 25 tahun (Atambua)
13. Yohanes A Tomauk, 25 tahun (Atambua)
14. Vincensius K Nahak, 41, (Atambua)
15. Gregorius Kefe, 43 tahun (Atambua)
16. Lau Servas, 35 tahun (Atambua)
17. Edo Bauk (Atambua)
18. Longinus, 30 tahun


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.