Trending

  • Jumat, 2 Desember 2022
  • Bahasa

Metro

  • 0 Komentar

Kisah Polisi Penolong dari Batas Ter-Selatan NKRI

Kisah Polisi Penolong dari Batas Ter-Selatan NKRI
Sinto mengisahkan sejak awal ditempatkan sebagai Bhabinkamtibmas di dua desa tersebut

Penulis: Nyongky Malelak
TVRINews, Rote Ndao

Tidak mudah untuk menjadi seorang bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (Bhabinkamtibmas), apalagi di daerah terpencil. Namun, sebagai seorang polisi harus patuh dan siap ditempatkan di pelosok manapun wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Brigadir Polisi Sinto Simson Malelak demikian nama lengkap seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di batas terselatan NKRI, tepatnya di Desa Nusakdale dan Desa Batulilok, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sinto mengisahkan sejak awal ditempatkan sebagai Bhabinkamtibmas di dua desa tersebut, Ia merasa tertantang. Pasalnya, akses jalan ke daerah tersebut sangat buruk sehingga harus ditempuh dalam waktu 2 jam, padahal jaraknya tidak lebih dari 15 kilometer.

“Awal-awal memang berat, saya kadang tidur di rumah warga karena sudah kecapean,” kata Sinto.

Namun seiring waktu berjalan, Sinto menganggap bahwa semua warga binaaanya adalah keluarganya, sehingga Ia mulai kerasan bertugas di daerah tersebut.

“Mereka (masyarakat) anggap saya sebagai saudara, saya juga sebaliknya,” ungkap Sinto.

Selain akses jalan yang rusak, jaringan telekomunikasi di daerah tugas Sinto juga sulit. Belakangan, ada bantuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia berupa Telkomsel bhakti. Kendati bertugas dalam situasi serba terbatas, polisi yang ramah dan murah senyum itu, menganggap desa binaannya adalah rumah keduanya. Dia tidak memperhitungkan jarak dan akses jalan yang sulit. Setiap hari Brigpol Sinto menyapa warga binaannya, sambil berbagi cerita.

Tak hanya itu, melihat potensi seorang anak di salah satu desa binaannya sangat baik, namun orangtuanya tidak mampu, brigpol Sinto kemudian meminta izin untuk menyekolahkan anak itu. Bagi Sinto, membuka tangan untuk menolong orang, sama halnya dengan membuka tangan untuk menerima berkat.

“Kalau kita genggam tangan kita erat – erat, bagaiman rezeki itu bisa masuk,” pungkasnya.

Orang tua anak itu pun memahami niat baik Brigpol Sinto dan mengizinkan anaknya tinggal bersama keluarga barunya. Brigpol Sinto dan Isterinya menyayangi anak tersebut layaknya anak kandung mereka, kendati mereka sudah punya 2 orang anak. Bocah yang disekolahkan sejak sekolah dasar itu, kini sudah berganti seragam menjadi putih abu.

Bantu Pasutri Lansia Sakit

Di tengah gonjang – ganjing kasus pembunuhan Ibu dan Anak di Kota Kupang dan Kasus Sambo yang menggerus kepercayaan publik terhadap aparat kepolisian di seluruh Indonesia khusnya Nusa Tenggara Timur (NTT), Brigpol Sinto terus menebar kebaikan dengan membantu pasangan suami isteri (Pasutri) lanjut usia (Lansia) yang sedang sakit di desa binaannya.

Samuel Adu (80) dan Regina Ndun (79), merupakan Pasutri Lansia yang tinggal berdua dalam sebuah gubuk reot berukuran 3 x 4, di Desa Nusakdale, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pasutri ini bernar – benar hidup sebatang  kara. Mereka tidak memiliki anak maupun kerabat yang mengurus mereka. Ironisnya, pasutri lansia ini tidak mendapat bantuan apapun dari pemerintah. Sebelumnya pasutri kurang beruntung ini pernah mendapat bantuan sosial PKH Lansia, namun sekitar 8 bulan terakhir, nama mereka hilang dari daftar penerima bantuan.

Dalam seminggu terakhir, pasutri lansia ini dikabarkan sakit. Mereka hanya pasrah karena tidak ada biaya untuk berobat. Di tengah penderitaan mereka, Brigpol Sinto Simson Malelak, Anggota Polsek Pantai Baru, Polres Rote Ndao, yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di wilayah itu, tidak sengaja mampir di gubug derita pasutri tersebut. Ketika kembali, Sang Polisi Humanis ini mengajak tenaga kesehatan di Puskesmas Sonimanu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi Pasutri Lansia ini.

“Waktu itu, Pak Sinto sampaikan kalau ada warga yang sakit dan tidak bisa datang ke Puskesmas karena itu kami berinisiatif untuk datang ke rumah opa Samuel dan isterinya,” kenang Kepala Puskesmas Sonimanu, Sarlota Buknoni A.Md.Keb, saat menapat informasi dari Brigpol Sinto.

Usai mendapat informasi dari Brigpol Sinto, Sarlota ditemani beberapa tenaga kesehatan dari Puskesmas Sonimanu bersama Brigpol Sinto, menuju kediaman Opa Samuel. Mereka menyusuri jalan yang rusak, berlubang dan terdapat banyak batu lepas yang cukup memacu adrenalin. Namun demikian, demi kemanusiaan, para tenaga kesehatan ini bersama Bhabinkamtibmas, tiba di gubuk derita Opa Samuel dan Isterinya.

“Opa (Samuel Adu) sakit gatal- gatal, napas sesak dan demam, sedangkan Oma (Regina Ndun) tudak bisa melihat, pendengaran terganggu, dan tidak kuat jalan/lemah fisik,” terang Kapus.

“Suasana mengharu biru saat kami melihat kondisi oma dan opa. Keadaan mereka benar – benar sangat memperihatinkan. Kami berikan pelayanan kesehatan dengan harapan dan doa, mereka cepat sembuh,” imbuh Sarlota.

Selain pelayanan kesehatan, Brigpol Sinto juga membawa sembako, berupa beras, mie instan, dan lainnya untuk Pasutri Lansia itu.

“Saya hanya mengembalikan hak mereka yang Tuhan titipkan lewat saya, semoga menjadi berkat,” ujar Sinto.

Pelayanan Brigpol Sinto tidak berhenti sampai di situ.Setiap bulan, Dia menyisihkan penghasilannya untuk membeli sembako dan dibagikan kepada warga binaan yang tidak mampu. Menurut Brigpol Sinto, apa yang dilakukan bukan sesuatu yang istimewah namun sebagai makhluk sosial wajib hukumnya untuk saling menolong dan berbagi kebaikan.

“Sebagai anggota Polri, saya harus menjalankan amanat  Undang – undang nomor 2 tahun 2022 pasal 13, yakni memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat,” tandas Sinto. 


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.