Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Lebih 1,7 Juta Warga Meninggalkan Ukraina, AS dan Sekutu Desak Rusia Izinkan Perjalanan Warga Sipil

Penulis: Christhoper Natanael Raja

 

TVRINews, Ukraina

Melihat situasi Ukraina yang tidak menunjukkan tanda-tanda meredanya invasi yang dilancarkan Rusia, Amerika Serikat bersama para sekutunya mendesak Moskow melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengizinkan perjalanan luar negeri yang aman bagi warga sipil.

 

Mengingat sudah lebih dari 1,7 juta warga Ukraina mencoba mengungsi ke negara tetangga. Namun, masih banyak dari mereka yang terjebak di kota-kota Ukraina. Mereka yang terkepung dan tidak menerima bantuan yang disalurkan ke daerah-daerah pertempuran, sehingga dapat disebutkan bahwa krisis kemanusiaan di Ukraina semakin memburuk.

 

Utusan dari banyak negara termasuk Amerika Serikat, Irlandia, Prancis, serta Kepala Bantuan PBB Martin Griffiths mendesak keamanan perjalanan warga sipil setelah meningkatnya jumlah korban sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang-orang terlantar.

 

"Kami membutuhkan komitmen Rusia yang tegas, jelas, publik, dan tegas untuk mengizinkan dan memfasilitasi akses kemanusiaan tanpa hambatan bagi mitra kemanusiaan di Ukraina," kata Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield pada pertemuan Dewan Keamanan PBB yang dilansir dari Reuters, Selasa (8/3/2022).

 

Sebenarnya, Rusia telah menawarkan rute pelarian warga Ukraina menuju Rusia dan Belarusia, setelah upaya gencatan senjata evakuasi akhir pekan gagal. Namun, Duta Besar Prancis untuk PBB Nicolas de Riviere menilai hal tersebut adalah keputusan yang munafik.

 

"Saya tidak tahu terlalu banyak orang Ukraina yang ingin mencari perlindungan di Rusia. Ini kemunafikan," ujar Nicolas.

 

Hingga saat ini, dampak dari invasi Rusia adalah lebih dari 1,7 juta orang telah meninggalkan Ukraina. Banyak perusahaan Barat telah menarik diri dan telah memberlakukan sanksi keras terhadap bank-bank Rusia dan Presiden Vladimir Putin.

 

Mejawab keresahan ini, Utusan Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia justru menuduh pihak berwenang Ukraina tidak mengizinkan warga sipil melarikan diri. Pihaknya menyangkal telah menargetkan warga sipil dan bersumpah untuk melanjutkan kampanye yang diluncurkan sejak 24 Februari 2022 dan menyebut sebagai operasi militer khusus.

 

Bertindak sebagi penengah, pihak PBB melalui Griffiths mengatakan semua pihak harus selalu berhati-hati untuk menyelamatkan warga sipil, harus diizinkan lewat dengan aman ke mana pun mereka ingin melarikan diri.

 

"Warga sipil di tempat-tempat seperti Mariupol, Kharkiv, Melitopol, dan di tempat lain sangat membutuhkan bantuan, terutama pasokan medis yang menyelamatkan jiwa," tutur Griffiths.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.