Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Mengulik Sejarah Kampung Kauman, Islam dan Muhammadiyah (episode 1)

Penulis: Ahmad Richad

TVRINews, Yogyakarta

Sejarah Kampung Kauman dan Masjid Gedhe yang berada di barat alun-alun Keraton Yogyakarta, tidak pernah lepas dari nama seorang tokoh besar yang menjadi Pahlawan Nasional dan juga pendiri dari organisasi Muhammadiyah yaitu Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Kata Kauman berasal dari kata “kaum” dan “iman” yang bermakna bahwa para penduduk merupakan sekelompok orang beriman dan memahami agama Islam.

"Kampung Kauman ini kan didirikan bersamaan dengan pendirian Keraton Yogyakarta. Jadi seusai Keraton itu, barulah di pada Ahad Wage 29 Mei 1773 Masehi, didirikanlah Masjid Raya Yogyakarta, atau lebih dikenal sebagai Kagungan Dalem Masjid Gedhe Kauman," kata Ketua Takmir Masjid Gede Kauman, Azman Latif, kepada TVRINews ketika berkunjung ke Masjid Gedhe Kauman.

Azman Latif menuturkan orang-orang yang berada di Kampung Kauman ini sejak dulu mereka para pengelola masjid Gedhe, ada yang menjadi imam masjid, muazin, dan sebagainya.

"Zaman dahulu, di masjid ini para jemaahnya hanya melakukan ritual keagamaan (Islam) saja, seperti ngaji-ngaji, sholawat, dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik. Namun semua itu berubah ketika KH Ahmad Dahlan datang dengan memberikan pemikirannya tentang Islam yang mencerahkan dan berkemajuan," ucap Azman Latif.

Dalam perkembangannya Azman Latif menuturkan bahwa ide-ide pembaruan dari KH Ahmad Dahlan mulanya mendapat penolakan dari masyarakat, utamanya di Kampung Kauman. 

KH Ahmad Dahlan pun sempat disebut sebagai Kyai kafir, lantaran ide-ide pembaruan yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya saat itu. Salah satu ide yang menjadi kontroversi adalah mengubah arah kiblat.

Kyai Ahmad Dahlan yang diangkat Keraton Yogyakarta sebagai khatib amin menilai arah kiblat masjid dan mushala di Yogyakarta tidak tepat dan perlu diubah. Menurut pria yang memiliki nama asli Muhammad Darwis itu, arah kiblat masjid Gedhe Kauman miring beberapa derajat. 

Dari penafsiran KH Ahmad Dahlan, semua arah shalat di masjid dan mushala Yogyakarta saat itu bukan mengarah ke Makkah, tetapi ke benua Afrika.

Pendapat itu sangat berisiko. Sebab, saat itu mempersoalkan arah kiblat merupakan sesuatu yang sangat sensitif di masyarakat setempat.

"Namun karena peran dari KH Ahmad Dahlan itu, kemudian masjid ini juga sedikit pelan-pelan mengalami perubahan menjadi pusat kajian Islam yang mencerahkan dan berkemajuan," tutur Azman Latif.

Dari Masjid Gedhe Kauman ini juga lahirlah pemikiran-pemikiran KH Ahmad Dahlan yang diwujudkan melalui Muhammadiyah. Sehingga muncul ungkapan bahwa Kampung Kauman merupakan Kampung Muhammadiyah.

Di Kampung Kauman inilah perkumpulan itu didirikan tepatnya pada 18 November 1912 yang bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah, hingga organisasi ini bisa berkembang ke pelosok Tanah Air. Melalui organisasi Muhammadiyah, warga Kampung Kauman ketika itu akhirnya semakin terbuka untuk berinteraksi dengan masyarakat lainnya. (bersambung...)


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.