Trending

  • Kamis, 26 Mei 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Kepala BKF: APBN 2022 Disiapkan untuk Transisi dari Pandemi ke Endemi

Kepala BKF: APBN 2022 Disiapkan untuk Transisi dari Pandemi ke Endemi
Kepala BKF: APBN 2022 Disiapkan untuk Transisi dari Pandemi ke Endemi

Penulis: Naufal Lanten

TVRINews, Jakarta

Pemerintah terus menyiapkan langkah-langkah untuk hidup berdampingan dengan Covid-19 dan bertransisi dari pandemi menjadi endemi, termasuk melalui APBN 2022. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Febrio N Kacaribu mengatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus siap merespon dinamika, khususnya pada sektor kesehatan dan perlindungan sosial.

Menurutnya, Covid-19 tidak bisa dihilangkan, namun bisa dikendalikan, seiring dengan penanganan pandemi yang diperkirakan membaik pada 2022. Ia menyebutkan alokasi belanja pada APBN tahun depan tetap dirancang untuk pemulihan namun juga fleksibel untuk mengakomodir ketidakpastian ke depan.

“Kita siapkan budgetnya di dalam APBN kita. Bukan hanya vaksin saja. Kita tahu bahwa tenaga kesehatan harus kuat. Waktu 2020-2021 sampai sekarang nakes kita sudah berjibaku bekerja keras, kita berikan insentif,” kata Febrio Kacaribu di Jakarta, Jumat (10/9/2021).

“Karena ini sudah akan berkelanjutan, kita coba lihat bagaimana bentuk insentif dari nakes sini harusnya agak lebih permanen lagi sesuai dengan kondisi dari endemi tersebut,” lanjut dia.

Febrio mengingatkan dampak dari pandemi yang kemudian menjadi endemi adalah adanya kesiapan apabila suatu ketika ada varian baru yang berakibat aktivitas ekonomi harus dibatasi. Pada saat aktivitas ekonomi mobilitas dibatasi, maka masyarakat akan terdampak hidupnya khususnya perekonomiannya. 

Dalam konteks itu, Febrio menegaskan bahwa pemerintah tetap akan memberikan perlindungan bagi masyarakat miskin dan rentan karena yang akan terdampak paling besar dari pembatasan-pembatasan mobilitas tersebut.

“Sehingga program perlinsos kita mulai dari PKH (Program Keluarga Harapan) Bansos dan sebagainya itu harus tetap siap. Nah itu membuat APBN kita memang dalam konteks endemi ini harus tetap fleksibel dan harus tetap responsif,” ujar Kepala BKF.

Febrio menambahkan bahwa ada pelajaran yang bisa diambil oleh bangsa Indonesia selama satu setengah tahun ditengah pandemi, yaitu masyarakat sudah mulai melakukan kebiasaan baru dan akan menjadi bagian dari kebiasaan hidup baru ke depan. 

Menurut Febrio, ini merupakan modal penting sehingga masyarakat itu semakin siap jika ternyata ada varian baru lagi yang melanda. Dengan itu harapannya adalah kasus penularan yang terjadi tidak terlalu tinggi dan kesiapan sektor kesehatan.

“Inilah yang kita bayangkan hidup dengan endemi itu. Sehingga fleksibilitas yang terjadi di masyarakat itu akan menjadi modal yang sangat kuat bagi kita sebagai suatu bangsa dan sebagai suatu perekonomian. APBN-nya pun siap untuk antisipatif dan fleksibel untuk melakukan refocusing dan realokasi begitu ada kebutuhan untuk mengantisipasi resiko penularan-penularan baru yang mungkin akan tinggi,” ucap Febrio.

“Kita harus segera siap menangani kesehatannya, menangani pandemi, dan juga siap menangani masyarakat yang terdampak khususnya yang miskin dan rentan, dan juga pengusaha-pengusaha kecil UMKM. Ini yang kita akan fokuskan ke depan,” lanjut dia.

 

Editor: Dadan Hardian


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.