Trending

  • Jumat, 1 Juli 2022

Internasional

  • 0 Komentar

Sebut Sebarkan Berita Palsu Tentang Operasi Militer, Rusia Blokir Media Sosial dan Portal Berita

Sebut Sebarkan Berita Palsu Tentang Operasi Militer, Rusia Blokir Media Sosial dan Portal Berita
Sebut Sebarkan Berita Palsu Tentang Operasi Militer, Rusia Blokir Media Sosial dan Portal Berita

Penulis: Christhoper Natanael Raja

TVRINews, Rusia

Invasi besar-besaran Rusia kepada Ukraina sudah memasuki hari ke-10. Kini, pasukan Rusia terlihat mengepung dan membombardir kota-kota di Ukraina, dalam serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia Kedua silam.

Pertempuran ini menyebabkan lebih dari satu juta pengungsi, dengan rentetan sanksi yang semakin mengisolasi Moskow dan ketakutan di wilayah Barat akan konflik yang lebih luas yang tidak pernah terpikirkan selama beberapa dekade.

Meski demikian, Rusia tetap menyebutkan gerakan invasinya sebagai operasi khusus untuk menangkap individu yang dianggapnya sebagai nasionalis berbahaya, dan membantah menargetkan warga sipil.

Kondisi ibu kota Ukraina, Kiev saat ini berada di jalur gencatan senjata lapis baja Rusia, yang sebelumnya sempat terhenti di luar ibu kota Ukraina. Kini kembali diserang, dengan ledakan terdengar dari pusat kota.

Pasukan Rusia telah mengepung dan menembaki kota pelabuhan tenggara Mariupol. Kondisi di sana disebutkan sangat mengerikan, tidak ada air, panas, atau listrik dan mereka kehabisan makanan setelah lima hari diserang. 

"Kami hanya dihancurkan," Walikota Vadym Boychenko yang dilansir dari Reuters, Sabtu (5/3/2022).

Tindakan Presiden Rusia Vladimir Putin ini tentu menarik kecaman hampir universal, dan banyak negara telah menjatuhkan sanksi berat karena telah menyeimbangkan hukuman dengan menghindari pelebaran konflik.

Melihat hal ini, jutsru Rusia memblokir sosial media dan mengesahkan Undang-Undang yang memberi Moskow kekuatan lebih kuat untuk menindak jurnalisme independen, mendorong sejumlah media asing tertentu untuk menangguhkan pelaporan di negara itu.

Melawan perang informasi, parlemen Rusia mengeluarkan Undang-Undang yang menjatuhkan hukuman penjara hingga 15 tahun karena menyebarkan berita "palsu" tentang militer dengan sengaja.

"Undang-undang ini akan memaksakan hukuman, dan hukuman yang sangat berat pada mereka yang berbohong dan membuat pernyataan yang mendiskreditkan angkatan bersenjata kita," kata Vyacheslav Volodin, Ketua Duma Majelis Parlemen Rusia.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar