Trending

  • Kamis, 27 Januari 2022

Olahraga

  • 0 Komentar

Kenali Kode Khusus dalam Nomor Pertandingan Peparnas XVI Papua

Kenali Kode Khusus dalam Nomor Pertandingan Peparnas XVI Papua
Perhelatan multievent olahraga terbesar bagi penyandang difabel ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 yang berlangsung 2-15 Oktober 2021 lalu.

Penulis: Christhoper Natanael Raja

TVRINews, Kabupaten Jayapura

 

Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua rencananya akan digelar pada 5-15 November 2021 mendatang. Perhelatan multievent olahraga terbesar bagi penyandang difabel ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 yang berlangsung 2-15 Oktober 2021 lalu

Pada pelaksanaan kali ini, para kontingen bakal bertanding dalam 12 cabang olahraga (cabor) dengan 602 nomor pertandingan yang terdiri dari angkat berat, atletik, boccia, bulutangkis, catur, judo, menembak, panahan, renang, sepak bola cerebral palsy (CP), tenis lapangan kursi roda, dan tenis meja.

Komite Nasional Paralimpik Indonesia atau National Paralympic Committe Indonesia (NPCI) merilis  Buku Pegangan Teknis Peparnas yang mencantumkan persyaratan ketat agar para peserta dapat dikategorikan sebagai atlet penyandang difabel dan layak mengikuti pertandingan. 

Sebagai contoh, para atlet wajib melengkapi persyaratan dengan bukti-bukti pendukung berupa laporan pemeriksaan medis dari rumah sakit dan dokter bersangkutan, mengenai kondisi fisik yang dianut. 

Terdapat sejumlah cabang dimainkan pada kelas elit yang diperuntukkan bagi atlet nasional dan pernah terjun di even internasional wajib mengikutinya. Setiap atlet di kelas elit hanya boleh turun bertanding pada satu nomor saja. Ada pula kelas nasional yang diikuti oleh atlet daerah dan nasional yang belum pernah ikut dalam pertandingan internasional. 

Kelas elit dan nasional ini diberlakukan pada cabang seperti bulutangkis, catur, judo, menembak, dan renang. Ketentuan ini dibuat agar terjadi pemerataan prestasi dari seluruh peserta Peparnas XVI Papua. 

Nomor perlombaan dalam cabor Peparnas berbeda dengan PON, terdapat klasifikasi khusus berdasarkan kondisi fisik peserta. Untuk mempermudah klasifikasi nomor pertandingan, akan digunakan kode-kode tertentu.

Berikut klasifikasi nomor pertandingan pada cabor yang dimainkan pada Peparnas XVI Papua pada tanggal 5-15 November 2021:

Atletik

? Menurut NPCI, aturan nomor pertandingan Peparnas Papua untuk atletik harus mengacu kepada IPC Athletic Rules dengan klasifikasi difabel, yakni hambatan fisik (tunadaksa), penglihatan (tunanetra), pendengaran (tunarungu), dan intelektual (tunagrahita).Kode khusus untuk penamaan nomor pertandingan mengacu kepada nama lain atletik sebagai cabang olahraga lintasan dan lapangan (Track and Field). 

? Kelas T/F11 diikuti oleh atlet dengan kondisi fisik tidak dapat menangkap cahaya pada waktu diberi rangsangan sinar dan tidak mampu mengenal bentuk tangan pada jarak dan arah manapun. 

? Kelas T/F12 atlet memiliki ketajaman pandangan sampai dua meter yang diukur dengan alat optik snellen dan memiliki bidang pandang kurang dari 20 derajat. Untuk atlet yang turun di kelas T/F11 dan T/F12 pada nomor lari, pelaksanaannya dapat dibantu oleh pemandu (runner guide) yang telah disiapkan oleh kontingen masing-masing. 

? Kelas T/F13 dimana atlet memiliki ketajaman pandangan sampai enam meter dan bidang pandang kurang dari 20 derajat. Kelas T/F20 diperuntukkan bagi atlet tuna grahita. 

? Kelas T/F35-T/F38 dengan peserta memiliki kondisi fisik kekejangan tertentu (ringan hingga berat) pada separuh tubuh atau tiga anggota badan (bagian tangan dan kaki), dapat berjalan sendiri, dan mempunyai problem control pada tangan dan kaki. 

? Kelas T/F36-T/F38 dikhususkan bagi atlet kategori cerebral palsy (CP)

? Kelas T/F40-T/F41 dimana pesertanya diukur berdasarkan tinggi badan dan panjang lengan. 

? Kelas T/F42-T/F47, klasifikasi pesertanya berdasarkan kondisi fisik serta kemampuan menggerakkan tubuh tanpa dan dengan alat bantu. 

? Kelas T52-T54 para atlet menggunakan alat bantu kursi roda dan untuk Kelas T/F +54 khusus bagi atlet tuna rungu. 

Boccia

? Kelas F55, F +56, F57 melakukan pertandingan dengan cara duduk karena kondisi khusus pada kedua kaki. Boccia melombakan 10 nomor terdiri dari perorangan dan berpasangan (mixed pairs). 

? Kelas BC1-BC5 meliputi lima nomor perorangan dan lima nomor berpasangan. Seluruh pertandingan boccia mengacu kepada aturan baku Boccia International Sport Federation (BISFed). 

Bulu tangkis

? Terdapat kode khusus yang menunjukkan tingkat kemampuan fisik bertanding para atletnya. Semua mengacu kepada peraturan Badminton World Federation (BWF) khusus regulasi paralimpik. 

? WH1 dan WH2 diperuntukkan bagi atlet bulutangkis kursi roda (wheelchair). Lalu ada kode SL (skala 1-5) untuk Kelas Standing Lower. Semakin tinggi skalanya, maka makin kecil pula keterbatasan fisik si atlet. 

? U (skala 1-5) untuk Kelas Upper dari cabang yang menggelar pertandingannya di GOR Cenderawasih, Kota Jayapura. 

? Kelas Short Stature (SS6) untuk atlet yang memiliki pelambatan pertumbuhan tulang dan membuat tinggi tubuhnya lebih kecil dari sebaya. 

Catur dan Judo

? Pada cabang catur, kode khusus B1-B3 diperuntukkan bagi atlet tuna netra yang bertarung di nomor-nomor khusus klasifikasi hambatan penglihatan. Kode B1-B3 juga dapat ditemukan pada cabang judo tuna netra (blind judo).

Menembak

? Kelas SH1 Pistol diperuntukkan bagi

atlet dengan kemampuan gerak tubuh dibawah 25 persen. Kelas ini juga dapat diikuti oleh atlet dengan kondisi kemampuan gerak maksimal 50 persen. 

? Kelas SH1 Rifle, atlet menembak mempunyai kemampuan gerak dibawah 25 persen. 

? Kelas SH2 dialokasikan bagi atlet dengan kondisi kemampuan gerak 25 persen atau dibawahnya. 

? Seluruh atlet memperoleh alat bantu berupa meja untuk meletakkan senjata bertanding agar fokus dalam membidik target. Mereka juga boleh membidik senjata dari bangku khusus (bangku tinggi) atau kursi roda. 

? Semua petembak Kelas SH2 wajib didampingi loader, atau petugas pengisi peluru yang disiapkan oleh masing-masing kontingen. Loader tidak boleh berbicara atau memberikan instruksi khusus kepada atlet selama proses pengisian amunisi ke dalam chamber senjata. Loader juga bertugas membantu petembak untuk mengubah tata letak alat bantu bidik setelah adanya permintaan dari si atlet itu sendiri. 

Akuatik

? Kode Standing (skala 1-13) bagi atlet dengan hambatan penglihatan

? Standing skala 13 (S13), si atlet memiliki daya penglihatan lebih baik dan ketajaman visual tertinggi. 

? S14 diperuntukkan bagi atlet dengan hambatan intelektual (tunagrahita)

? Kelas S15 untuk atlet tunarungu. 

Tenis Meja

? Atlet tunadaksa kursi roda masuk di Kelas 1-5, dan Kelas 6-10 untuk atlet tunadaksa berdiri serta Kelas 11 untuk tunagrahita. Sedangkan Kelas TN untuk atlet tunanetra dan TRW untuk atlet tunarungu.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar