Trending

  • Kamis, 27 Januari 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Produksi Hingga 2 Juta Butir per Hari, Bareskrim Bongkar Sindikat Pabrik Obat Terlarang di Yogyakarta

Produksi Hingga 2 Juta Butir per Hari, Bareskrim Bongkar Sindikat Pabrik Obat Terlarang di Yogyakarta
Produksi Hingga 2 Juta Butir per Hari, Bareskrim Bongkar Sindikat Pabrik Obat Terlarang di Yogyakarta

Penulis: Oseani Putri

TVRINews, DI Yogyakarta

Tim Penyidik Gabungan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri dan Direktorat Reserse Narkoba Polda DIY menggerebek dua pabrik pembuatan obat keras terbesar di Indonesia di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pabrik tersebut merupakan produsen sindikat obat berbahaya dan ilegal jaringan DIY, Jabar, DKI, Jatim serta Kalimantan. Pabrik tersebut memproduksi sejumlah obat terlarang, di antaranya hexymer, trihex dan doubel L.

Dua pabrik yang memproduksi obat keras ilegal di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut sudah beroperasi sejak 2018. Dalam sehari mereka  bisa memproduksi 2 juta butir obat.

Saat meninjau pabrik pembuatan obat ilegal ini Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno Halomoan Siregar mengungkapkan pabrik pembuatan obat ilegal merupakan sebuah gudang yang berada di Jalan PGRI 1 di Sonosewu Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY. 

Gudang pembuatan dan penyimpanan obat keras tersebut ditemukan penyidik pada 21 September 2021 sekira pukul 23.00 WIB. Selain menemukan obat terlarang, petugas menemukan mesin dan bahan baku yang digunakan para pelaku untuk memproduksi obat. 

Polisi juga menyambangi satu pabrik lainnya di Ringroad Barat, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Krisno menyebut dua pabrik yang memproduksi obat keras ilegal   tersebut sudah beroperasi sejak 2018 dan bisa memproduksi 2 juta butir obat per hari.

Dalam perkara ini sebanyak tiga tersangka ditangkap. Mereka merupakan pembuat dan pengedar obat ilegal jaringan DIY, Jawa Barat, Jakarta,  Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Masing-masing tersangka mengaku mendapatkan upah bervariasi antara Rp20 juta, Rp60 juta hingga Rp200 juta per bulan. 

Selanjutnya para tersangka diperiksa untuk penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri untuk pengembangan.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Polisi Agus Andrianto mengatakan pengungkapan kasus ini berawal ketika tim penyidik melakukan penyelidikan terkait dugaan jual beli obat keras tersebut di kawasan Cirebon Indramayu Majalengka Bekasi Jawa Barat dan Jakarta Timur.

Dari hasil penyelidikan tersebut polisi menangkap Maskuri dan delapan orang lainnya. Maskuri dan rekannya mengaku obat keras tersebut diproduksi di wilayah Yogyakarta. Berbekal informasi itu penyidik Bareskrim pun langsung berkoordinasi dengan Polda DIY untuk melakukan pengembangan.

Dari pengungkapan jaringan peredaran tersebut polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain satu unit truk colt diesel, beberapa mesin pembuatan obat, bahan baku pembuatan obat, dan 30.345.000 butir obat keras yang dikemas menjadi 1.200 colli paket dus.

Atas perbuatannya para tersangka dijerat Pasal 60 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja Atas Perubahan Pasal 197 Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan subsider Pasal 196 dan atau pasal 198 Undang-undang nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan junto pasal 55 KUHP dengan ancaman pidana selama 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar subsider 10 tahun penjara.


Editor: Dadan Hardian


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar