Trending

  • Senin, 30 Mei 2022

Metro

  • 0 Komentar

Dua Tokoh Kabupaten Majalengka Menyerukan Agar Arteria Dahlan Meminta Maaf

Dua Tokoh Kabupaten Majalengka Menyerukan Agar Arteria Dahlan Meminta Maaf
Bupati Majalengka Karna Sobahi

Penulis : Edwar Ruspendi

TVRINews, Majalengka

 

Terkait pernyataan Arteria Dahlan yang meminta Jaksa Agung ST Burhanuddin mencopot Kajati, karena menggunakan bahasa Sunda saat rapat. Anggota DPRI RI Maman Imanulhaq dan Bupati Majalengka Karna Sobahi angkat bicara.

Menurut kedua orang penting itu, pernyataan tersebut menyakiti masyarakat Sunda, sementara banyak tokoh lainnya yang kerap menggunakan bahasa daerahnya masing-masing di dalam rapat tidak ada yang mempersoalkannya.

“Saya legislator dan juga perwakilan masyarakat Jawa Barat khususnya wilayah Majalengka, Subang, dan Sumedang, menyayangkan pernyataan dari saudara kita Arteria Dahlan," kata Kiai Maman, melalui telepon selulernya.

Ia pun mempertanyakan sikap Arteria Dahlan yang hanya menyoroti 1 pejabat yang kerap menggunakan bahasa Sunda.

“Pertanyaannya adalah mengapa yang disorot Arteria hanya 1 pejabat saja?,” imbuhnya.

Kiai yang kerap ceramah memakai bahasa Sunda ini meminta Arteria, untuk meminta maaf dan memberikan klarifikasi atas pernyataannya yang dinilai melukai masyarakat Sunda.

"Bangsa kita bangsa besar, jangan dinodai oleh pernyataan-pernyataan yang justru malah memecah belah di tengah upaya kita dalam moderasi keberagamann,” ujarnya.

Di sisi lain, Kiai Maman meminta masyarakat Jawa Barat untuk berjiwa besar, memaafkan, dan melupakan untuk kepentingan persatuan bangsa Indonesia. Ia mengajak masyarakat Sunda bangkit dan semakin melestarikan bahasa sunda di berbagai tempat dan kesempatan.

"Saya justru mengajak warga Jawa Barat untuk melestarikan bahasa Sunda agar bahasa Sunda tetap terjaga," pungkasnya

Senada dengan pernyataan Anggota DPR RI komisi III salah satu tokoh yang ikut mengomentari pernyataan kontroversi Arteria Dahlan itu, adalah Bupati Majalengka, Jawa Barat, Karna Sobahi.

Karna yang juga merupakan tokoh Sunda mengatakan, pernyataan Arteria Dahlan dirasa kurang elok dalam menyikapi keragaman budaya di Indonesia. Apalagi sampai meminta memecat seseorang hanya karena menggunakan bahasa daerah dalam rapat.

"Dalam menyikapi keanekaragaman budaya. Tidak harus terjadi lah lontaran pernyataan itu hanya karena gara-gara seorang Kajati menggunakan bahasa daerah, harus dipecat. Kurang relevan," kata Karna, Rabu (19/1/2022) usai grand opening Rumah Sakit Mitra Plumbon Majalengka.

Menurut Karna, penyataan itu terlalu berlebihan dan tidak perlu terjadi. Bahkan, dia juga membandingkan dengan presiden dari masa ke masa yang menggunakan bahasa daerah saat acara resmi.

"Toh yang lain menggunakan bahasa Jawa biasa aja. Pak Presiden menggunakan bahasa Jawa dari zaman Pak Harto juga biasa kan. Tidak menjadi persoalan," jelas dia.

"Perlu kearifan, bagaimana menyikapi ketika ada hal yang menjadi biasa di daerahnya kemudian terbawa ke forum resmi," lanjut dia.

Karna sangat menyangkan pernyataan pernyataan itu. Sebab, menggunakan bahasa asing saja tidak ada yang melarang, lantas apa masalahnya menggunakan bahasa daerah ditanggapi secara berlebihan.

"Menggunakan bahasa Inggris aja boleh, kenapa Sunda ga boleh," ucap dia.

Ia pun meminta Arteria Dahlan segera meminta maaf dan mempertanggungjawabkan atas pernyataan yang membuat gaduh masyarakat Sunda.

"Mudah-mudahan dia segera mengklarifikasi itu, dan minta maaf juga. Tentu kita sangat menyayangkan. Kalau menggunakan bahasa daerah lain dilarang digunakan, kan menyinggung daerah lain. Ya orang Sunda jadinya terusik kan, tersinggung juga," paparnya.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.