Trending

  • Kamis, 30 Juni 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Studi Terbaru: Apakah Varian Omicron dapat Berperan seperti Delta Sebabkan Gelombang Baru?

Studi Terbaru: Apakah Varian Omicron dapat Berperan seperti Delta Sebabkan Gelombang Baru?
Dunia masih berupaya untuk meneliti seberapa berbahaya varian baru B.1.1.529 atau Omicron yang merupakan mutasi dari virus Covid-19 SARS-CoV-2.

Penulis: Christhoper Natanael Raja

TVRINews, Jakarta

Dunia masih berupaya untuk meneliti seberapa berbahaya varian baru B.1.1.529 atau Omicron yang merupakan mutasi dari virus Covid-19 SARS-CoV-2. Dalam waktu singkat setelah ditemukan, virus ini ditetapkan sebagai variant of concern (VOC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sejumlah studi laboratorium dilakukan pada pekan ini, semua menyebutkan varian Omicron ini bisa menurunkan antibody yang dibentuk oleh vaksin Pfizer dan BioNTech walau sudah disuntik sebanyak dua dosis. Meski demikian, dosis ketiga disebutkan dapat memulihkan perlindungan antibodi terhadap virus tersebut.

Namun, masih diperlukan banyak data untuk membuktikan kebenaran tersebut. Sebab, vaksin Covid-19 akan tetap difungsikan sebagai pelindung terhadap varian Omicron yang memang sangat cepat bermutasi.

Dalam sejumlah data awal dari varian Omicron ini disebutkan bahwa virus ini menyebabkan penyakit yang lebih ringan daripada varian sebelumnya. Para ilmuwan butuh melakukan pelacakan banyaknya orang yang divaksinasi, namun masih terinfeksi varian Omicron, dan melihat diantara mereka apakah diperlukan rawat inap atau perawatan intensif. 

Berdasarkan data WHO, hingga tanggal 7 Desember 2021 lalu, dunia masih didominasi oleh penularan varian Delta yang mudah menular, sebanyak 99,8 persen infeksi global Covid-19. 

Profesor Mikrobiologi dan Imunologi di Weill Cornell Medical College John Moore mengatakan untuk meredam varian Omicron agar tidak menjadi masalah yang signifikan, perlu mengubah keseimbangan antara vaksinasi dengan varian ini.

"Jika kita mulai melihat muncul 10 persen infeksi baru dari Omicron, kemudian pekan depan naik menjadi 20 persen. Itu akan menjadi petanda bahwa kita berada dalam gelombang baru, seperti yang kita lihat ketika varian Delta menggantikan Alpha lalu," kata Moore yang dilansir dari Reuters, Jumat (10/12).

Ia menambahkan apabila tidak terjadi hal tersebut, maka varian Omicron kemungkinan bakal berperilaku lebih seperti varian Beta, dengan menunjukkan kemampuan untuk mengurangi efektivitas vaksin, tetapi tidak menjadi ancaman global. 

Dr. Amesh Adalja seorang Ahli Penyakit Menular di Pusat Kesehatan Johns Hopkins melihat “persaingan” dari varian Delta maupun varian Omicron seberapa kuat keduanya mampu bersaing untuk mendapatkan korban terutama di negara yang sudah pesat divaksinasi.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.