Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Kesal Pupuk Kerap Langka dan Mahal, Petani Rote Timur Minta Pengecer Diganti

Kesal Pupuk Kerap Langka dan Mahal, Petani Rote Timur Minta Pengecer Diganti
Kesal Pupuk Kerap Langka dan Mahal, Petani Rote Timur Minta Pengecer Diganti

Penulis : Nyongky Malelak 

 

TVRINews, Rote Ndao

Masalah pupuk subsidi masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Setiap musim tanam, petani selalu "menjerit" lantaran kelangkaan pupuk. Jika ada, harganya pun di atas Harga Eceren Tertinggi (HET), bahkan melampaui harga pupuk non subsidi. 

 

Ironisnya, pupuk subsidi ini sudah diatur jalur distribusinya agar memudahkan, memperlancar dan menjauhkan petani dari para mafia, namun sebaliknya petani merana karena diduga mafia pupuk subsidi tidak jauh dari lingkaran distribusi. 

 

Sebagai bentuk luapan kekesalan,

sejumlah ketua kelompok tani menggeruduk kantor DPRD Rote Ndao. Mereka meminta para wakil rakyat menunjukan keberpihakkannya kepada para petani untuk mengatasi masalah pupuk bersubsidi yang tak kunjung menemukan penyelesaian.

 

Mereka juga meminta agar pengecer pupuk subsidi di wilayah Kecamatan Rote Timur segera diganti, karena telah menyusahkan petani. Bahkan pengecer dari UD Gracia atas nama Rini Polin, diduga hanya menjadi "boneka" penguasa. 

 

"Setiap tahun itu kita mengalami keterlambatan pupuk dan juga harga transportasi selalu saja naik Rp5 ribu," ungkap Ketua Kelompok Le Ina Lain, Rediars Sui, kepada anggota DPRD di Kantor DPRD Rote Ndao, belum lama ini. 

 

Sui merasa heran, pasalnya, pengecer wilayah Rote Timur adalah Rini Polin, namun uang pupuk masih dibayarkan kepada oknum anggota DPRD Rote Ndao. 

 

"Tahun 2021 itu kita masih bayarnya ke Anton Ndun yang sekarang anggota DPR tapi pengecernya UD GRACIA atas nama Rini Polin. Saya punya nota semua lengkap," tandasnya. 

 

Sementara itu, Meksi Klaas, Ketua Kelompok Tani Rarano, menyampaikan bahwa setiap tahun selalu terjadi keterlambatan pendropingan pupuk. Akibatnya petani selalu gagal panen. 

 

"Sampai saat ini saya punya kelompok belum terima satu kilogram pupuk pun. Jadi saya mau sampaikan bahwa kalau perkiraan bulan Maret ini saya belum mendapatkan pupuk maka  

saya tidak akan minta lagi, tapi saya minta UD Gracia Dan Distributor bertanggung jawab atas saya punya kelompok karena ini otomatis kami mengalami gagal panen," tegas Meksi. 

 

Ketua Kelompok Tani Laisona Pilas, Weni Oan dengan tegas meminta pengecer pupuk subsidi untuk wilayah Kecamatan Rote Timur harus diganti karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. 

 

"Harus diganti supaya kami jangan merasa terbeban dengan uang transportasi yang selalu saja mengalami kenaikan," tandas Weni Oan. 

 

Dia meminta agar pengecer harus memiliki gudang dan modal yang cukup sehingga tidak menjadikan petani sebagai sapi perah. 

 

"Kalau pengecer punya gudang di Rote Timur maka otomatis biaya angkutan kecil. Jangan seperti UD GRACI, tidak punya gudang di Rote Timur dan apa lagi pupuknya selalu datang terlambat, maka ini sangat merugikan kami masyarakat tani," ungkap Weni Oan. 

 

Menyikapi keluhan kelompok tani, Wakil Ketua DPRD Rote Ndao, Paulus Henukh menyebut tahun ini Rote Ndao mendapatkan jatah kurang lebih 3500 ton pupuk bersubsidi, terdiri dari UREA 2.000 ton lebih, emudian sisanya SP-36, PONSKA, cair dan lain-lain. 

 

"Saya melihat bahwa kita di Rote ini tidak transparan dalam menyajikan data dan informasi terkait dengan pupuk bersubsidi. Dalam peraturan menteri perdagangan Nomor 15 Tahun 2013 tentang pengadaan dan distribusi mestinya transparan," ungkap Paulus. 

 

Menurut Paulus, pemerintah perlu menerapkan 6 tepat yang tertuang dalam peraturan Menteri Perdagangan, yakni tepat jumlah, harga, mutu, wilayah, orang dan waktu. 

 

Wakil Ketua Dewan berjanji akan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak terkait untuk menindaklanjuti keluhan para kelompok tani.

 

"Kita akan upayakan saat RDP nanti dan saya minta kalau bisa Pemda harus buka - bukaan," ujar Politisi Partai Perindo itu. 

 

Lebih lanjut dijelaskan, terkait distributor dan pengecer, syarat yang pertama harus memiliki modal, armada transportasi, dan juga gudang. 

 

"Kalau tidak tidak punya modal, angkutan dan gudang buat apa juga harus dipakai," pungkas Paulus. 

 

"Saya lihat di Rote sini kebanyakan pengecer tidak lolos persyaratan yang ada," imbuhnya.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.