Trending

  • Minggu, 3 Juli 2022

Internasional

  • 0 Komentar

Invasi Rusia Berlanjut, Ukraina Ajukan Gugatan kepada Pengadilan Tertinggi PBB agar Serangan Dihentikan

Invasi Rusia Berlanjut, Ukraina Ajukan Gugatan kepada Pengadilan Tertinggi PBB agar Serangan Dihentikan
Invasi Rusia Berlanjut, Ukraina Ajukan Gugatan kepada Pengadilan Tertinggi PBB agar Serangan Dihentikan

Penulis: Chirsthoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta

 

Setelah empat hari menerima serangan dari ivansi besar-besaran, Ukraina memutuskan untuk mengajukan gugatan terhadap Rusia melalui pengadilan tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Minggu (27/2/2022) waktu setempat.

Gugatan yang dikirimkan oleh Ukraina terdiri atas penolakan klaim Moskow bahwa pihaknya menginvasi tetangganya untuk mencegah genosida dan meminta hakim untuk memerintahkan penghentian segera operasi militer Rusia. 

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin telah menegaskan bahwa Ukraina melakukan genosida di wilayah Donbass di Ukraina Timur dan mengatakan invasi itu dibenarkan untuk mengakhirinya.

Menanggapi gugatan Ukraina yang diajukan di Mahkamah Internasional (ICJ) di Den Haag, PBB menolak tuduhan genosida. Sehingga, Ukraina meminta hakim untuk memerintahkan "tindakan sementara" untuk melindungi Ukraina. ICJ mengkonfirmasi pengajuan pada hari ini, Senin (28/2/2022).

Sebagai informasi, ICJ adalah pengadilan di bawah naungan PBB untuk menyelesaikan perselisihan antar negara. Jauh sebelumnya dari konflik saat ini, kedua belah pihak berselisih mengenai makna Konvensi Genosida tahun 1948, sebuah perjanjian yang telah mereka tandatangani.

Ukraina pun meminta pengadilan untuk memutuskan ketidaksepakatan atas "adanya tindakan genosida" dan klaim Rusia atas otoritas hukum untuk mengambil tindakan militer. 

Kasus-kasus sebelum pengadilan tertinggi PBB umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diadili, tetapi sidang tentang tindakan sementara di masa lalu telah diadakan dalam beberapa minggu setelah pengajuan.

Ukraina meminta hakim untuk memerintahkan Rusia "segera menangguhkan operasi militer yang dimulai 24 Februari 2022 dengan maksud dan tujuan yang dinyatakan untuk pencegahan dan hukuman atas genosida yang diklaim di oblast Luhansk dan Donetsk di Ukraina".

Ukraina sebelumnya telah berusaha untuk melibatkan pengadilan lain di Den Haag, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), yang menangani tuduhan kejahatan perang terhadap individu. Menyusul aneksasi Rusia atas Krimea pada Maret 2014 lalu.

Kemudian, pada pertempuran berikutnya di Ukraina Timur antara pemberontak pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina, Kiev menerima yurisdiksi ICC atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang yang dilakukan di wilayahnya sejak Februari 2014. Sehingga, pada Desember 2020, kantor kejaksaan mengumumkan bahwa mereka memiliki alasan untuk percaya bahwa kejahatan perang dan kejahatan lainnya dilakukan selama konflik.

Permintaan resmi untuk membuka penyelidikan penuh belum diajukan kepada hakim, tetapi jaksa ICC Karim Khan pada Jumat (25/2) menyatakan keprihatinannya atas invasi Rusia dan mengatakan pengadilan dapat menyelidiki dugaan kejahatan yang timbul dari situasi saat ini.

Dampak dari invasi ini, Kementerian Kesehatan Ukraina melaporkan hingga 28 Februari, terdapat 352 warga sipil, termasuk 14 anak-anak tewas sejak awal invasi Rusia ke Ukraina. Disebutkan juga bahwa 1.684 orang, termasuk 116 anak-anak terluka.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.