Trending

  • Rabu, 1 Desember 2021

Ekonomi

  • 0 Komentar

Pandemi Dorong Migrasi Layanan Digital Perbankan

Pandemi Dorong Migrasi Layanan Digital Perbankan
Pandemi Dorong Migrasi Layanan Digital Perbankan

Reporter: Aulia Zita

TVRINews, Jakarta

Sejumlah bank di Indonesia memutuskan untuk menutup sebagian kantor cabangnya. Hal ini terjadi sebagai dampak digitalisasi layanan perbankan. Perubahan perilaku nasabah ditambah pandemi mendorong peningkatan penggunaan layanan perbankan digital.

Salah satu bank yang menutup banyak cabang adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Bank ini dikabarkan menutup 96 kantor cabang pada tahun ini. Penutupan ini dilakukan atas dasar efisiensi dan migrasi ke layanan perbankan digital. 

Direktur Layanan dan Jaringan BNI Ronny Venir mengatakan sekitar 80 persen volume transaksi oleh nasabah sudah dilakukan secara digital, sedangkan sisanya masih secara konvensional.

"Tinggal sedikit orang yang masih berinteraksi langsung, karena beberapa alasan. Mungkin mereka lebih senang data ke cabang. Tapi pelan-pelan kita akan beralih ke transaksi digital," kata Ronny, Sabtu (8/5/2021).

BNI bukan satu-satunya bank yang melakukan hal ini. Data OJK menyebutkan per Januari 2021 terdapat 30.128 kantor cabang bank umum. Jumlah tersebut turun dari bulan Januari 2020 lalu yang tercatat ada 31.125 kantor atau menurun 997 kantor.

Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Putri Djarot menyebutkan migrasi digital sektor perbankan adalah suatu keniscayaan, terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Selama pandemi, tuntutan akselerasi digital makin meningkat didorong oleh perubahan ekspektasi publik akan layanan keuangan yg cepat, efisien dan aman serta dapat dilakukan dari rumah. 

Kondisi demikian mengharuskan perbankan untuk menempatkan transformasi digital sebagai prioritas dan salah satu strategi dalam upaya peningkatan daya saing Bank.

Migrasi digital ini juga berkaitan dengan tuntutan konsumen dan peningkatan daya saing bank. Lebih lanjut Puti menjelaskan transformasi dari tradisional ke digital harus dilakukan perbankan menyesuaikan perubahan perilaku nasabah, terutama selama pandemi yang mulai mengurangi transaksi tatap muka. 

Ada kecenderungan nasabah lebih memilih bertransaksi secara online melalui telepon genggam yang lebih cepat dan mudah, kapan saja dan dimana saja.

“Jika tidak siap melakukan transformasi pasti akan ditinggal nasabah,” ujar Puti saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (28/5/2021).

Digitalisasi ini tentu memberi banyak manfaat baik dari sisi aksesibilitas layanan bagi nasabah maupun efisiensi layanan bagi bank. Namun  di sisi lain migrasi ke layanan digital ini juga memberi tantangan. 

Puti menjelaskan migrasi digital bagi institusi perbankan itu tidak murah. Terbatasnya modal menjadi penyebab utama tersendatnya bank-bank untuk melakukan hal tersebut.

Oleh karena itu OJK telah mendorong bank-bank untuk melakukan penguatan permodalan, baik melalui upaya konsolidasi maupun memenuhi modal inti minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam Peraturan OJK Konsolidasi Bank Umum. 

“Dengan adanya dukungan modal yang memadai serta adanya sinergi yang terbentuk dari pelaksanaan skema konsolidasi diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Bank untuk berinovasi serta berkompetisi di era digital,” kata Puti.

 


Editor: Dadan Hardian


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.