Trending

  • Sabtu, 20 Agustus 2022

Nasional

  • 0 Komentar

Laporan dari Ha Noi: Suka Duka Jurnalis SEA Games, Kendala Bahasa hingga Bayar Jutaan untuk Transportasi (Episode 1)

Laporan dari Ha Noi: Suka Duka Jurnalis SEA Games, Kendala Bahasa hingga Bayar Jutaan untuk Transportasi (Episode 1)
Para jurnalis saat menghadiri konferensi pers di Main Press Center, Vietnam National Convention Center, Hanoi

Penulis: Fera Belinda

TVRINews, Ha Noi

Pelaksanaan SEA Games 2021 Vietnam telah usai. Senin (23/5) malam, SEA Games resmi ditutup oleh Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh. 

Meski berlangsung sederhana, acara closing ceremony yang berlangsung di Vietnam Asian Indoor Game Stadium, Hanoi cukup memukau dengan sajian musik dan kebudayaan yang menjadi ciri khas Negeri Naga Biru.

2 pekan digelar, 12 hingga 23 Mei 2022, SEA Games menyisakan banyak cerita. Tak hanya bagi atlet yang mengukir prestasi, mencatatkan rekor baru, ataupun memberikan kejutan. Tetapi juga bagi para jurnalis yang meliput pesta olahraga multievent di Kawasan Asia Tenggara tersebut.

Banyak tantangan yang harus dihadapi para jurnalis ketika berada di lapangan. Penerapan protokol kesehatan tak berjalan maksimal, padahal masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Para jurnalis harus memiliki kesadaran untuk menerapkan protokol kesehatan (menjaga jarak dan menggunakan masker), setidaknya melindungi diri sendiri.

"Ini liputan pertama saya yang benar-benar bisa menghadirkan penonton tanpa ada batasan jumlah. Seneng, cuma deg-degan juga karena gak semua menjaga prokes. Saya berusaha menjaga prokes saat liputan, dengan selalu memakai masker, cuci tangan dan hand sanitizer", ujar Wina Setyawati, jurnalis Tanah Air dari Harian Pikirin Rakyat.

Tidak hanya itu, persoalaan bahasa juga menjadi kendala utama dalam berkomunikasi, baik dengan petugas hingga masyarakat biasa. Tak banyak dari mereka (petugas dan masyarakat Vietnam, red) yang bisa dan faham berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, sehingga menyulitkan para jurnalis untuk mendapatkan informasi. 

Jurus menggunakan Google Translate pun jadi pilihan terakhir, jika dalam kondisi kepepet. 

"Kendala terbesar bahasa. Selain volunteer-nya hanya sedikit yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Jadi masyarakatnya kebanyakan tidak bisa Bahasa Inggris", lanjut Wina.

"Untuk bahasa harus sedikit lebih kerja keras menggunakan google translate", Ikhwan Yanuar, jurnalis dari Bola.com menimpali.

Persoalan bahasa tak hanya menyulitkan saat mencari informasi, tetapi juga saat akan memilih restoran. Hampir tidak menemukan rumah makan ataupun restoran yang turut mencantumkan Bahasa Inggris di papan merek restoran mereka. Sehingga pengunjung tak bisa memahami, menu apa yang ditawarkan restoran tersebut.

Tak sampai di situ, masalah kehalalan makanan juga menjadi masalah utama bagi yang beragama Islam. Sangat sulit menemukan makanan halal. Lagi-lagi jurus terakhir, para jurnalis terpaksa memilih junk food, untuk memastikan kehalalan makanan.

"Pasti sulitnya mencari makanan halal, sulitnya mencari tempat ibadah", cerita Ikhwan.

Tak sedikit dari rekan-rekan jurnalis yang akhirnya memilih memasak, bagi mereka yang menyewa unit apartemen.

"Makanan, sejauh ini baik-baik saja. Meski kurang menemukan makanan halal, cuma bisa disiasati dengan masak sendiri", tutur Wina. (bersambung...)


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.