Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Metro

  • 0 Komentar

Sejarah dan Sosok Dibalik Lincahnya Barongsai Atoin Meto dari Nusa Tenggara Timur

Laporan: Nyongky Malelak 


TVRINews, Kupang

Barongsai merupakan tarian tradisional dari Negeri Tirai Bambu yang kerap dimainkan saat Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China. 

Bagi warga Indonesia turunan Tionghoa, tarian Barongsai merupakan budaya leluhur mereka dari Dinasti Chin sekitar abad ketiga sebelum Masehi. Sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT), Barongsai mulai masuk tahun 2011.

Seorang pengusaha berdarah Tionghoa Leonard Antonius, membawa Barongsai ke Kota Kupang, dengan menyewa pelatih dari Jawa Tengah. 

Uniknya, para penari yang direkrut adalah anak-anak asli NTT yang berasal dari beberapa suku, seperti suku Rote, Timor dan Sabu. 

Para penari dan pemain musik Barongsai juga merupakan karyawan CV NAM milik Leonard Antonius. 

Pemain Barongsai Singa terdiri dari 4 orang, yakni Ignasius Lelan, Amos, Evan dan Eston. Mereka memerankan gerakan 2 ekor singa. 

Pemeran karakter Singa Kuning, Ignasius Lelan, mengatakan dirinya mengikuti latihan dan seleksi menjadi penari Barongsai pada 2011 silam.

"Waktu pelatih dari Semarang datang dan mempraktekan tarian Barongsai, saya liat sangat unik dan saya sangat tertarik untuk belajar," kata Igi sapaan akrab Ignasius kepada TVRINews, Senin (31/01/2022). 

Ketertarikannya terhadap tarian Barongsai membuat Igi serius berlatih dan akhirnya menguasai tarian tersebut. 

"Awalnya memang sulit, tetapi akhirnya bisa dikuasai," ujarnya. 

Bagi pria asal Eban Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) itu, banyak hal yang bisa diperoleh saat belajar gerakan Barongsai. 

"Kami bisa belajar banyak hal baru, tapi terpenting adalah konsentrasi, dan kekompakan. Kalau tidak kompak maka bisa celaka," ucap Igi. 

Senada dengan Igi, Amos yang merupakan pemain Barongsai juga menjelaskan, pesan moril yang dirinya peroleh dari belajar tarian Barongsai yakni manusia tidak hidup sendiri tetapi butuh orang lain. 

"Kebersamaan dan kekompakan adalah hal utama yang harus dimiliki penari Barongsai," ucap Amos. 

Betapa tidak, untuk kepala barongsai yang beratnya sekitar 5 sampai 6 kg, harus dibawa penari sambil melompat dan berlari ke sana kemari. 

"Jadi bagian ekor harus menyesuaikan langkah, tidak bisa beda, kalau tidak kompak maka bisa fatal," ujar Amos. 

Tugas dari pemain bagian ekor singa harus kuat menumpu beban dari berat badan karakter pemegang kepala singa, terutama saat atraksi melompat selama beberapa kali dalam durasi pertunjukan tersebut.

"Kekuatan dari karakter singa ada pada pemain ekor karena harus mengangkat kepala singa saat atraksi melompat, sehingga saya harus tetap menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh," jelas Amos.

Sementara itu, Koordinator Barongsai Atoin Meto, Juliana Adu, mengatakan Barongsai Atoin Meto memiliki arti Barongsai Orang Timor. 

"Atoin Meto merupakan bahasa suku Timor Dawan yang artinya orang timor. Saya menyampaikan terima kasih kepada owner CV NAM, Leonard Antonius, yang mengizinkan mereka berlatih," ucap Yuli.

Lebih lanjut Yuli menjelaskan bahwa ada kepuasan tersendiri jika terlibat dan menguasai budaya Tionghoa itu. 

"Dari permainan Barongsai, kita belajar makna menjaga kekompakan dan kebersamaan di dalam tim, sekaligus mendapatkan keluarga dan teman baru," tuturnya. 

Yuli berharap, pemerintah dapat memperhatikan para pemain Barongsai agar bisa lebih berprestasi. Apalagi saat ini Barongsai diperjuangkan untuk masuk dalam cabang olahraga yang ikut dalam PON.

Untuk diketahui, semua pemain musik pengiring Barongsai, adalah perempuan. 


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.