Trending

  • Sabtu, 3 Desember 2022
  • Bahasa

Nasional

  • 0 Komentar

Cegah Penimbunan Vaksin Covid-19, WHO Minta COVAX Buat Aturan Baru Jangka Panjang

Cegah Penimbunan Vaksin Covid-19, WHO Minta COVAX Buat Aturan Baru Jangka Panjang
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai Covid-19 Vaccines Global Access (COVAX) membuat sebuah aturan baru yang melihat jangka panjang untuk mencegah terjadinya penimbunan vaksin oleh negara berpengh

Cegah Penimbunan Vaksin Covid-19, WHO Minta COVAX Buat Aturan Baru Jangka Panjang


Penulis: Christhoper Natanael Raja


TVRINews, Bali

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai Covid-19 Vaccines Global Access (COVAX) membuat sebuah aturan baru yang melihat jangka panjang untuk mencegah terjadinya penimbunan vaksin oleh negara berpenghasilan tinggi atau produsen dari vaksin itu sendiri.


COVAX merupakan sebuah akses yang dikelola oleh WHO dan Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) untuk mempermudah sebuah negara  mendapatkan vaksin Covid-19 yang setara dengan negara lainnya.


Penasehat Senior Direktur Jenderal WHO Bruce Aylward mengatakan negara-negara yang tidak memiliki daya beli yang tinggi akan menderita karena negara-negara yang berpenghasilan tinggi menggunakan daya beli mereka untuk mengarahkan aliran vaksin. Sementara negara-negara manufaktur tentu akan memprioritaskan distribusi domestik.


“Anda tidak dapat melakukan vaksinasi kepada satu bagian dunia dan membuat negara-negara berpenghasilan rendah menunggu,” kata Aylward pada pertemuan Presidensial G20 di Bali, Jumat (10/12).


COVAX telah mengalokasikan sebagian besar dosis vaksin Covid-19 secara proporsional kepada lebih dari 140 negara penerima sesuai dengan ukuran populasi sejak Januari. Kemudian, pada bulan Oktober, WHO mengatakan akan mendistribusikan suntikan hanya ke negara-negara dengan tingkat cakupan terendah. Untuk itu, Aylward meminta produsen vaksin lebih transparan.


"Produsen harus mengatakan berapa banyak vaksin yang akan dikirim ke siapa, dan kapan. Jika kami tidak memiliki informasi itu, kami tidak dapat merencanakan dengan baik," ujar Aylward.


Aylward mempertegas permintaan itu karena WHO mengumumkan pasien rawat inap yang disebabkan oleh varian Omicron sudah terdeteksi di 57 negara. Sehingga, ia menyatakan kemungkinan penularannya akan meningkat seiring dengan penyebarannya.


"Banyak orang mengatakan Omicron tidak menyebabkan banyak kematian. Kami tidak tahu itu. Omicron adalah virus yang sangat baru, belum banyak dilakukan pengurutan yang memberi tahu kita keseriusan penyakit ini,” tutur Alyward.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.