Trending

  • Selasa, 9 Agustus 2022

Hukum

  • 0 Komentar

3 Tersangka Ditahan KPK, Begini Konstruksi Perkara Suap Pajak Jalan Tol Solo - Kertosono

3 Tersangka Ditahan KPK, Begini Konstruksi Perkara Suap Pajak Jalan Tol Solo - Kertosono
3 Tersangka Ditahan KPK, Begini Konstruksi Perkara Suap Pajak Jalan Tol Solo - Kertosono

Penulis : Ridha Gemelli Sitompul

TVRINews, Jakarta
KPK telah menetapkan dan menahan tiga tersangka kasus dugaan suap terkait pembayaran restitusi pajak proyek pembangunan jalan tol Solo Kertosono pada Kantor Pajak Pratama Pare, Jawa Timur, berkaitan dengan pembangunan Tol Solo-Kertosono. 

“KPK melakukan penyelidikan dan ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup dan berikutnya KPK meningkatkan status perkara ini ke tahap penyidikan dengan mengumumkan tersangka,” kata Direktur Penindakan KPK Asep Guntur dalam konferensi pers di gedung Merah Putih KPK, Jumat (5/8/2022) sore. 

Lanjut, Asep menyebut kasus ini berawal dari kerja sama joint operation antara China Road and Bridge Corporation (CRBC); PT Wijaya Karya (Wika) Persero; dan PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero, sebagai pelaksana pembangunan Jalan Tol Solo -Kertosono, dan terdaftar sebagai salah satu wajib pajak di KPP Pare, Jawa Timur. 

Lalu, pada sekitar Januari 2017, ketiga perusahaan mengajukan restitusi pajak atau pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak, untuk tahun 2016 ke KPP Pare. 

Selanjutnya, tersangka 'AR' sebagai supervisor ditunjuk melakukan pemeriksaan restitusi pajak terhadap ketiga perusahaan itu dalam rangka menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. 

Sekitar Agustus 2017, KPP Pare menerbitkan surat pemberitahuan kepada tiga perusahaan tersebut. Surat itu berisikan perintah tugas pemeriksaan lapangan oleh tim pemeriksa pajak yang tadi supervisor nya adalah 'AR'. 

Merespon surat pemberitahuan itu, Chairman Board of Manajemen Wen Yuegang kemudian menunjuk tersangka 'TA' sebagai kuasa untuk mengurus restitusi pajak ketiga perusahaan itu di KPP Pare. 

“Dari keseluruhan restitusi pajak senilai Rp13,2 miliar yang diajukan, diduga ada inisiatif TA (Tri Atmoko) untuk memberikan sejumlah uang kepada AR (Abdul Rachman) dan tim agar pengajuan restitusi dapat disetujui," jelas Asep.

Kemudian, 'AR' menyetujui keinginan 'TA' dengan kesepakatan imbalan berupa permintaan fee 10 persen atau sekitar Rp1 miliar. Lalu, AR memperkenalkan SHR (Suheri) selaku orang kepercayaannya kepada TA. TA diminta menyerahkan uang melalui perantara SHR. 

Sekitar bulan Mei 2018, dari perjanjian Rp1 miliar, TA baru memberikan Rp895 juta ke AR. Penyerahan uang itu disebut dengan 'apel kroak' karena uang permintaan yang diinginkan AR tak terpenuhi sesuai dengan janji awal.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.