Trending

  • Sabtu, 20 Agustus 2022

Hukum

  • 0 Komentar

Bareskrim Naikan Status Perkara Dugaan Penistaan Agama Abraham Moses

Bareskrim Naikan Status Perkara Dugaan Penistaan Agama Abraham Moses
Foto : Abraham Ben Moses, Sumber : Youtube Saifudin

Penulis : Nirmala Hanifah

TVRINews, Jakarta
Bareskrim Polri meningkatkan status perkara dugaan penistaan agama dan ujaran kebencian yang dilakukan oleh oknum Pendeta Saifudin Ibrahim alias Abraham Ben Moses ke tingkat penyidikan.

"Hal ini berarti penyidik telah menemukan adanya dugaan pelanggaran pidana dalam perkara tersebut," kata Asep, Rabu (23/3/2022).

Direktur Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri Brigjen Asep Edi Suheri mengatakan pihaknya saat ini melakukan koordinasi guna melacak keberadaan Pendeta Abraham Ben Moses yang diduga saat ini berada di Amerika Serikat. 

Lanjut, mantan Karokorwas PPNS Bareskrim Polri menyampaikan bahwa polisi belum bisa menjelaskan lebih lanjut terkait rencana pemeriksaan terhadap terduga. Saat ini masih koordinasi secara intens dengan pihak-pihak terkait.

Sebelumnya, Rieke Ferra Rotinsulu melaporkan Pendeta Saifuddin Ibrahim ke Bareskrim Polri, Jumat (18/3) atas dugaaan penistaan agama dan ujaran kebencian.

Perempuan paruh baya tersebut merasa kecewa dan tersinggung atas ucapan Abraham Ben Moses, karena terduga selaku pendepar membawahi agama yang ia anut yaitu Kristen.

Laporan Rieke teregister dengan nomor LP/B/0133/III/2022/SPKT Bareskrim Polri tanggal 18 Maret 2022, dengan bukti tangkapan layar video dari kanal youtube Saifuddin.

Sebelumnya, oknum Pendeta Abraham Ben Moses meminta agar kurikulum sekolah Islam mulai dari pesantren tingkat madrasah tsanawiyah, aliyah, hingga perguruan tinggi dirombak karena tidak benar. Bahkan ia juga  meminta untuk menghapus 300 ayat Al-Quran. Tindakan Abraham dapat memicu hidup intoleran. 

Tahun 2018 Abraham Ben Moses juga pernah dilaporkan atas ujar kebencian karena menghina Nabi Muhammad SAW. Ia pun akhirnya dipenjara selama 4 tahun.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.