Trending

  • Jumat, 2 Desember 2022
  • Bahasa

Nasional

  • 0 Komentar

Tragedi Kanjuruhan, Tokoh Masyarakat Jatim Sarankan Kapolda dan Kapolres Malang Mundur 

Tragedi Kanjuruhan, Tokoh Masyarakat Jatim Sarankan Kapolda dan Kapolres Malang Mundur 
Tragedi Kanjuruhan

Penulis: Ahmad Richad

TVRINews, Malang

Tragedi stadion Kanjuruhan yang memakan korban hingga 131 orang tewas membuat keprihatinan dari seorang tokoh di Jawa Timur yang akrab disapa Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid.

"Citra kita sebagai bangsa yang beradab bisa berubah karena tragedi ini. Bayangkan, ada ratusan orang meninggal dunia, dan yang meninggal itu justru penonton yang tak bersalah," kata inisiator dari Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) itu, Senin (3/10/2022).

Lebih lanjut, Habib Syakur menganggap bahwa insiden pada malam Minggu itu benar-benar memalukan karena wajah sepak bola Indonesia bisa mendapatkan citra negatif di mata masyarakat dunia.

Baca Juga: Kapolri Jenguk Korban Kerusuhan Stadion Kanjuruhan di Rumah Sakit

Bahkan media internasional tersebut terkesan mencitrakan bahwa dunia sepak bola di Indonesia penuh dengan kekerasan dan ketidak ramahan.

"Tragedi ini sudah sampai ke penjuru dunia dan memalukan citra kita sebagai bangsa yang beradab. Apa pemerintah tidak mau menanganinya secara serius agar kejadian serupa tak terulang?" ucapnya.

Lebih tegasnya, Habib Syakur meminta agar pemerintah tidak hanya menyampaikan ucapan duka cita atau ucapan manis lainnya. Ia meminta agar ada tindakan tegas terhadap provokator bahkan pihak panitia dan aparat yang dianggap tidak mengetahui mekanisme untuk menjaga keamanan stadion.

"Kalau klubnya kalah pasti orang kecewa, wajar. Harusnya saat terjadi kericuhan aparat langsung mengantisipasi cepat dan langsung menahan para provokator. Bukan malah tunggu ricuh Lalu dilempar gas air mata, ini jelas bakal membuat penonton lain yang tak terprovokasi ikut panik bahkan mengalami luka akibat gas," ujarnya.

Baca Juga: Update Tragedi Kanjuruhan: 131 Meninggal Dunia, 31 Luka Berat, dan 253 Luka Ringan

Menurutnya, Kapolda dan Kapolres mendorong melakukan penyiagaan secara matang dan skema saat terjadinya bentrokan antar suporter agar tak menelan korban jiwa.

"Bukan menjadi rahasia umum jika antara Arema FC dan Persebaya sering disinggung sebagai rival berat di kancah persepakbolaan nasional. Kedua klub itu saling bersaing kuat hingga para suporter fanatik di masing-masing pihak ikut terpengaruh oleh rivalitas tersebut," tuturnya.

Menurut Habib Syakur, hal ini harusnya diketahui oleh aparat keamanan dan sudah membuat skema keamanan yang ketat apalagi untuk lihat bergengsi ini.

"Sebaiknya Kapolda Jatim dengan penuh kesadaran mundur dari jabatannya, begitu pula Kapolres Malang. Tragedi ini sudah membikin malu kita bahkan viral diluar negeri," katanya.

"Pemerintah juga harus menindak tegas. Tidak bisa hal memalukan seperti ini ditoleransi, kalau kita ingin sepakbola Indonesia maju, harus ada tindak tegas berbagai pihak," tutur Habib Syakur.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.