Trending

  • Selasa, 28 Juni 2022

Nasional

  • 0 Komentar

GPDRR 2022, DRRC UI Dorong Implementasi Empat Konsep Resiliensi Kebencanaan

GPDRR 2022, DRRC UI Dorong Implementasi Empat Konsep Resiliensi Kebencanaan
Kepala Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI), Fatma Lestari

Penulis: Ahmad Richad

TVRINews, Badung
Pemerintah Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan the 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 yang digelar secara hybrid di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Badung, Bali.

Dalam forum internasional ini, sebagai tuan rumah, Indonesia siap berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam mitigasi bencana sekaligus menyerap praktik terbaik mitigasi bencana dari negara lain.

Kepala Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) Fatma Lestari menjelaskan ada empat konsep resiliensi berkelanjutan dalam menghadapi risiko bencana yaitu kearifan lokal, pooling fund, from data to implementing policy, dan beyond natural hazards.

"Guna menurunkan tingkat mortalitas akibat bencana, maka diperlukan komitmen yang kuat dari semua pemangku kepentingan dengan menerapkan pendekatan Penta Helix yaitu Academia, Pemerintah, Industri, Masyarakat, dan Media,” kata Fatma, Kamis (26/5/2022).

Baca Juga: Tiba di Masjid Istiqlal, Mesut Ozil Disambut Masyarakat

Fatma menuturkan, dalam pengembangan ketahanan gempa, Indonesia memiliki budaya dan kearifan lokal yang kuat yang diimplementasikan dalam upaya pengurangan resiko bencana, seperti Rumah Adat di Senaru dan Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, memiliki infrastruktur yang unik dan kuat.

“Rumah-rumah adat ini tidak mengalami kerusakan selama gempa kuat yang telah dialami selama ini,” ucapnya.

Selain itu, Fatma menyampaikan dalam penanganan bencana pooling fund merupakan inisiatif yang baik sebagai salah satu upaya roda penggerak ekonomi berkelanjutan. Menurutnya, untuk mewujudkan pooling fund, Pemerintah Indonesia terus mendorong pemberdayaan masyarakat sipil atau civil society melalui UMKM.

“Pemberdayaan masyarakat sipil ini dapat menjadi penggerak ekonomi yang memberikan multiplier effect melalui program-program seperti Desa Wisata Tangguh Bencana untuk Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi, dan sekaligus membangun Sustainable Supply Chain,” ujarnya.

Baca Juga: Dalami Kasus Suap Auditor BPK Jabar, KPK akan Periksa 2 Ajudan Ade Yasin

Tidak hanya itu, Fatma menegaskan Indonesia juga perlu mengelola dan mengatasi tantangan terkait data untuk implementasi kebijakan. Untuk itu, DRRC UI telah bekerja sama dengan sejumlah Kementerian/Lembaga dalam mendukung implementasi kebijakan ini.

“Misalnya, DRRC UI menyusun e-book ‘Buku Saku Desa Tangguh Bencana Covid-19’ bersama Kementerian Dalam Negeri dan BNPB untuk menjadi pedoman bagi seluruh desa di Indonesia dalam menghadapi pandemic Covid-19,” lanjutnya.

Sementara itu, pada beyond natural hazards, Fatma menekankan perlunya pendekatan multi hazards, lantaran Indonesia merupakan negara rawan bencana, meski di sisi lain berbagai industri di Indonesia semakin berkembang.

Dalam konteks ini, lanjut Fatma, mengelola risiko di semua dimensi termasuk bencana alam, lingkungan, biologis atau teknologi, dan kombinasi dari NaTech, yakni bencana teknologi yang dipicu oleh alam (Natural Hazards Triggering Technological Accidents – natech) menjadi semakin penting untuk memastikan keberlangsungan bisnis dari berbagai sektor industri yang berkembang tersebut.

“Indonesia memiliki klaster industri pada hampir semua pulau seperti Kawasan Industri Cilegon di Pulau Jawa, kawasan industri di Sumatera, kawasan industri di Pulau Kalimantan, serta kawasan industri di Sulawesi dan Papua,” ucap Fatma.

“DRRC UI sendiri memiliki beberapa penelitian terkait risiko Natech di beberapa lokasi seperti Cilegon di Pulau Jawa dan Kalimantan,” tuturnya.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.