Trending

  • Jumat, 2 Desember 2022
  • Bahasa

Nasional

  • 0 Komentar

Pemerintah Siapkan Dana Rp123 Miliar Tangani Stunting di NTT

Pemerintah Siapkan Dana Rp123 Miliar Tangani Stunting di NTT
Pemerintah Siapkan Dana Rp123 Miliar Tangani Stunting di NTT

Penulis : Nyongky Malelak 

 

TVRINews, Kupang 

Kondisi penderita stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup memperihatinkan. Dari 22 Kabupaten/Kota, 15 di antaranya memiliki prevalensi stunting diatas 30 persen atau masuk kategori merah. 

 

Kondisi ini menjadi perhatian serius Pemerintah Pusat. Melalui Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pemerintah menggelontorkan anggaran Rp123 Miliar untuk menangani persoalan tersebut. 

 

“Kami telah mengalokasikan anggaran untuk penguatan kelembagaan seperti pembentukan satgas di luar TPPS (Tim Percepatan Penurunan Stunting) yang anggotannya bukan PNS dan melibatkan tim pakar untuk lakukan audit stunting," kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam acara Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia (RAN PASTI) di Provinsi NTT yang berlangsung di Kupang, Jumat (4/3/2022).

 

Kepala BKKBN mengatakan, pihaknya akan membuat aplikasi Elaimil. Aplikasi ini digunakan untuk merekap semua data terkait perkembangan penduduk by name, by address dan juga kondisi kesehatan keluarga. 

 

"Aplikasi Elsimil merupakan data pencatatan dan pelaporan yang sifatnya by name by address," jelas Hasto. 

 

Lebih lanjut kata Hasto, terdapat 4.200 lebih pendamping keluarga yang tersebar di semua desa/kelurahan di NTT akan menyampaikan laporan, sehingga Gubernur dan para kepada bupati/walikota memiliki data calon pengantin dan bayi yang lahir dan memiliki potensi stunting.

 

"Pada dasbor Pak Gubernur, setiap hari bisa terlihat dan terpantau bayi yang lahir hari ini yang panjangnya kurang dari 48 cm itu siapa dan di mana, alamatnya di mana," terangnya. 

 

"Saya titip di Kaper (Kepala Perwakilan BKKBN NTT, red) agar buat dasbor ini untuk Pak Gub (Gubernur, red) supaya Pak Gub tahu yang nikah hari ini siapa, yang lingkar lengan kurang dari 23 cm siapa dan di kabupaten mana. Kalau tidak dikerjakan dan ditreatmen akan ketahuan. Kuncinya di situ. Aplikasi ini lebih efisien karena kita tidak mungkin bisa terapi semua masyarakat. Kami juga sudah dapat dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk dukungan server demi kelancaran aplikasi ini,” kata Hasto.

 

Lebih lanjut, Hasto menjelaskan dalam aplikasi tersebut juga akan terekam data keluarga berisiko tinggi stunting, dengan memetakan ibu hamil dan melahirkan berpotensi stunting atau tidak.

 

“Ini bisa diketahui dengan memotret lingkungannya seperti tidak adanya air bersih atau jamban, rumah tidak layak huni. Atau pun karena terlalu dekat melahirkan, terlalu banyak anaknya, usia terlalu muda atau terlalu tua. Semuanya by name by address," urai Hasto. 

 

Dia berharap, dengan digelontorkannya anggaran sebesar Rp123 Miliar, dapat dimanfaatkan sebaik - baiknya untuk mengatasi masalah stunting di NTT. 

 

Berikut 15 Kabupaten dengan prevalensi stunting tertinggi :  

1. Kab.Timor Tengah Selatan (TTS)

2. Kab.Timor Tengah Utara (TTU)

3. Kab.Alor

4. Kab.Sumba Barat Daya

5. Kab.Manggarai Timur

6. Kab. Kupang

7. Kab. Rote Ndao

8. Kab. Belu

9. Kab. Manggarai Barat

10.Kab. Sumba Barat

11.Kab. Sumba Tengah

12.Kab. Sabu Raijua

13.Kab. Manggarai

14.Kab. Lemabata

15.Kab. Malak

 

Untuk diketahui, Kabupaten TTS dan TTU memiliki prevalensi diatas 46 persen.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.