Trending

  • Selasa, 28 Juni 2022

Metro

  • 0 Komentar

Bengkulu Kehilangan Rp 1,4 Triliun Per Tahun Akibat Tak Maksimalnya Sejumlah Bendung

Bengkulu Kehilangan Rp 1,4 Triliun Per Tahun Akibat Tak Maksimalnya Sejumlah Bendung
Bengkulu Kehilangan Rp 1,4 Triliun Per Tahun Akibat Tak Maksimalnya Sejumlah Bendung

Penulis : Agus Topo

TVRINews, Bengkulu

 

Setiap tahun Provinsi Bengkulu kehilangan keuntungan sebesar Rp 1,4 triliun dari sektor pertanian persawahan. Hal ini dikarenakan belum maksimalnya 6 bendung besar di daerah itu.

Hal ini disampaikan Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII, Mohammad Firman melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa II, Hadi Buana di Bengkulu.

Dikatakan Hadi kewenangan BWSS mengelola bendung itu dengan luasan persawahan di atas 3.000 hektar. Di Bengkulu ada 6 bendungan yang menjadi tanggungjawab instansinya.

"Ada 6 bendung menjadi tanggungjawab kami di Bengkulu, Bendung Manjunto, Air Lais-Kuro Tidur, Air Ketahun, Bendung Seluma, Bendung Alas dan Bendung Air Nipis Seginim. 6 bendung ini memiliki sawah potensial seluas 33.649 hektare, sayangnya baru 15 ribu hektare menjadi sawah fungsional, 15 ribu sisanya belum jadi sawah fungsional," kata Hadi Buana, Rabu (23/2/2022).

Ia menyayangkan masih 50 persen luasan sawah di Bengkulu belum menjadi sawah fungsional karena keterbatasan 6 bendung tersebut. Keterbatasan itu disebabkan belum maksimalnya bendung mengalirkan air ke 15 ribu sawah petani.

"Baru 15 ribu yang bisa memanfaatkan air bendung, sisa 15 ribu lainnya belum karena perlu optimalisasi bendung seperti perawatan, penambah jaringan dan lainnya," tambah dia.

Ia menyebutkan bila semua bendung itu optimal maka pendapatan petani sawah dari sektor gabah bisa mencapai Rp 2,8 triliun per tahun dengan asumsi masa tanam kisaran 2 hingga 3 kali.

Ia sempat mengkalkulasi pendapatan petani sawah fungsional 15 ribu hektare mampu menghasikkan 115.649 ton gabah per satu kali panen. Bila tiga kali panen hasilnya berkisar 315.707 ton gabah.

"Jumlah itu bila dirupiahkan dengan harga gabah hari ini Rp 4.650 per kilogram per tahun pendapatan Bengkulu mencapai Rp 1,4 triliun. Artinya bila seluruh sawah jadi fungsional artinya pendapatan mencapai Rp 2,8 triliun. Selama ini karena 6 bendung baru bisa melayani 15 ribu sawah maka Bengkulu sudah kehilangan Rp 1,4 triliun per tahun, angka yang besar dari sektor tani sawah," ungkapmya.

Bila seluruh luasan sawah 33.649 di Bengkulu digarap maksimal maka gabah dihasilkan per tahun mencapai 600 ribu ton.

"Saya rasa ini layak sekali diperjuangkan," ujarnya.

Ia akui biaya perawatan 6 bendung tersebut tidak kecil berkisar Rp 60 miliar hingga Rp 100 miliar. Belum lagi untuk menambah jaringan secara maksimal membutuhkan ratusan miliar namun hal tersebut sebuah angka yang wajar dan layak diterima petani dan Bengkulu.

"Selama ini kita selalu mengajukan ke pusat anggaran perbaikan, perawatan, namun tetap belum maksimal sementara kebutuhan petani akan air sawah terus mendesak. Diperlukan kerja bersama dengan para kepala daerah," jelas dia.

Sebelumnya, sejumlah petani di Kabupaten Seluma, Bengkulu, meminta pada pemerintah untuk memaksimalkan Bendung Alas yang mampu mengairi sekitar 4.000 hektar sawah namun karena bendung tersebut belum optimal baru 1.000 hektar sawah mampu dialiri air.

"Kami berharap pemerintah dapat memprioritaskan perbaikan sejumlah bendung di Bengkulu agar petani sawah makmur, kedaulatan pangan didapat, ini potensi Bengkulu wajib diperjuangkan," ujar seorang petani di Seluma, Buyung Saripul.

Akibat sejumlah bendung tak maksimal ribuan sawah potensial beralih fungsi menjadi kebun sawit, ada juga tak dimanfaatkan.

"Banyak sawah potensial jadi kebun sawit bagi petani bermodal, namun banyak juga menjadi lahan kosong alias nganggur," demikian Buyung.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.