Trending

  • Kamis, 6 Oktober 2022

Metro

  • 0 Komentar

Ratusan Ekor Ternak Babi Mati Mendadak di Wilayah Perbatasan Indonesia – Malaysia

Ratusan Ekor Ternak Babi Mati Mendadak di Wilayah Perbatasan Indonesia – Malaysia
Sejak akhir tahun 2021 lalu sudah banyak ditemukan kasus kematian ternak babi secara tidak wajar di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia, Entikong, Kalimantan Barat.

Penulis : Darius Tarigan

TVRINews, Entikong

 

Sejak akhir tahun 2021 lalu sudah banyak ditemukan kasus kematian ternak babi secara tidak wajar di wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia, Entikong, Kalimantan Barat.

Kematian hewan ternak piaran warga tersebut tersebar dibeberapa Kecamatan seperti Kecamatan Entikong, Kecamatan Sekayam dan Kecamatan Noyan.

Dalam satu hari kematian ternak babi diperbatasan bisa mencapai puluhan ekor. Salah seorang warga dusun Semeng yang beternak babi Martinus, membenarkan terjadinya kematian ternak babi warga secara tiba-tiba.

Sebelumnya, katanya, tidak pernah terjadi kasus seperti saat ini. Martinus mengakui jika sebelumnya  kalau hewan ternaknya mengalami sakit, ia dan warga peternak lainnya memberikan obat secara tradisional dan dapat sembuh.

Namun sekarang tidak dapat ditangani bahkan kasus kematian ternak babi tersebut semakin meluas ke beberapa wilayah di perbatasan.

“Ternak babi khususnya di semeng ini habis, kalau punya kami kemarin awal bulan dua belaslah mulai virusnya, mati semua. Ciri-cirinya kalau sudah matanya berair dan tidak mau makan, satu atau dua hari langsung mati”, katanya, Jum’at (21/1/2022).

Ia juga menuturkan, jika warga di dusunnya rata-rata memiliki hewan piaran babi. Sehingga kejadian tersebut membawa kerugian besar kepada peternak babi di wilayahnya. Ia sekaligus berharap dari kasus tersebut, agar dinas terkait memberikan perhatian kepada peternak di daerah mereka.

Ketika dikonfirmasi Dokter Hewan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Entikong, Muamar Darda mengakui, pihaknya sudah mendapat kabar tentang kematian ternak babi di Kabupaten Sanggau. Ia menjelaskan telah berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sanggau untuk menindaklanjuti kasus tersebut.

Berdasakan ciri-ciri fisik pada ternak babi yang mati tersebut mengarah pada African Swine Fever (ASF) namun untuk memastikan penyebabnya, Disbunak Kabupaten Sanggau telah mengambil sampel dari ternak babi dan sudah dikirim ke laboratorium di Jakarta.

“Kami juga sudah support bagaimana mengantisipasi kematian babi ini dengan mengambil sampel, dan kematian babi mendadak ini jika dilihat dari gejala klinisnya itu diduga penyakit ASF. Tapi untuk memastikan diagnosa kami, kita perlu hasil dari pemeriksaan lab”, katanya.

Muamar Darda menambahkan penyebaran virus ASF terbilang cepat dan tidak berdampak kepada manusia. Namun ia menyarankan untuk tidak mengkonsumi ternak babi yang dalam kondisi sakit.

“Salah satu langkah yang harus dilakukan untuk mencegah penyebarannya adalah dengan mengisolasi kandang babi, agar virusnya tidak menyebar ke daerah lain”, pungkasnya.


  • Tag

Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.