Trending

  • Selasa, 29 November 2022

Metro

  • 0 Komentar

Pemkot Balikpapan Harus Bergerak Cepat Meminimalisir Kecelakaan di Turunan Bundaran Muara Rapak

Pemkot Balikpapan Harus Bergerak Cepat Meminimalisir Kecelakaan di Turunan Bundaran Muara Rapak
Kejadian kecelakaan di Muara Rapak bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi, tetapi sudah hampir setiap tahun bahkan tak jarang bisa setahun 2 sampai dengan 3 kali terjadi kejadian kecelakaan serup

Penulis: Andrie Aprianto
TVRINews, Balikpapan 

 

Kejadian kecelakaan di Muara Rapak bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi, tetapi sudah hampir setiap tahun bahkan tak jarang bisa setahun 2 sampai dengan 3 kali terjadi kejadian kecelakaan serupa, maka kesalahan tidak hanya sepenuhnya dilimpahkan hanya kepada driver.

Banyak pihak yang harus ikut bertanggung jawab terhadap kejadian yang sudah berulang kali ini, Polri dalam hal ini polantas maupun Dishub harus dapat  memastikan keselamatan seluruh pengendara. Itu sebabnya harus ada rekayasa pengaturan lalulintas. Semisal dengan melakukan pengawasan terhadap kendaraan besar, agar ketika melintas di kawasan Muara Rapak dipastikan dalam kondisi yang baik, Pengawasan bisa dilakukan mulai dr KM 4 Simpang Terminal Batu Ampar.

"Sebenarnya Kota Balikpapan punya peraturan walikota no 60 tahun 2016 yang mengatur jam-jam tertentu yang diperbolehkan kendaraan besar melintas di tengah kota seperti pada kawasan Muara Rapak, namun peraturan ini tidak dijalankan dan tidak dilakukan pengawasan secara baik," ujar Pemerhati Kota, Hery Soenaryo, Jumat (21/1/2022).

Selain itu harus ada upaya lain yang juga harus dilakukan oleh Pemerintah kota Balikpapan, semisal dengan mendengarkan atau mengakomodir masukan masyarakat terkait pembangunan flyover Muara Rapak.

"Perlu juga diketahui bahwa setiap agenda penyususnan perencanaan pembangunan kita Blaikpapan masyarakat selalu bersuara keras untuk mengusulkan segera dibangun flyover dikawasan tersebut agar dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan," katanya.

"Seingat saya sudah sejak 2013 flyover tersebut diusulkan masyarakat untuk dibangun, berbagai diskusi perdebatan sudah dilakukan tetapi kelihatannya Pemerintah Kota telinganya semakin ponga," jelasnya.

Terakhir tahun 2020, Pemerintah Kota Balikpapan  menjelaskan dibeberapa media bahwa usulan flyover tersebut sudah diusulkan ke provinsi, karena ada dokumen yang kurang sehingga flyover ini tidak jadi  dianggarkan untuk dibangun.

"Kalau kita melihat  UU Nomor 25 tahun 2004, tentang sistem perencanaan pembangunan ada diatur tentang skala prioritas kebutuhan pembangunan, dan flyover Muara Rapak ini sudah sejak lama menjadi usulan prioritas pembangunan di Kota Balikpapan, dengan alasan sering terjadi kecelakaan sehingga pembangunan flyover ini masuk skala prioritas pembangunan di Kota Balikpapan yang segera harus dilakukan," tambahnya.

Beberapa alasan pemerintah kota sehingga belum terealisasinya  proses pembangunan adalah karena jalan tersebut adalah jalan provinsi sehingga yang  membangun adalah pemerintah  provinsi, dan pemerintah provinsi beralasan menunggu bantuan anggaran dari pusat,

Hal ini jelas menandakan 10 Anggota DPRD  perwakilan kota Balikpapan yang duduk di Karangpaci Provinsi Kaltim yang memiliki otoritas kewenangan anggaran tidak mampu memperjuangkan aspirasi daerah pemilihannya, melihat kondisi ini maka dibutuhkan upaya dalam bentuk tekanan atau lobi politik anggaran atau upaya hukum class action  yang serius oleh masyarakat kota Balikpapan dalam melindungi keselamatan warga Kota Balikpapan dari ancaman bahaya kecelakaan di Muara Rapak.


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.