Trending

  • Selasa, 29 November 2022

Internasional

  • 0 Komentar

Sri Lanka Bangkrut, PM Ranil: Kami Jatuh ke Titik Terendah

Sri Lanka Bangkrut, PM Ranil: Kami Jatuh ke Titik Terendah
Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe

Penulis : Ridha Gemelli Sitompul

TVRINews, Sri Lanka
Ekonomi Sri Lanka telah “benar-benar runtuh” dan kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF) merupakan satu-satunya jalan untuk kebangkitan negara tersebut.

Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe mengutarakan bahwa negaranya itu sedang menghadapi situasi yang jauh lebih serius, lebih dari sekedar kekurangan bahan bakar, gas, listrik, dan makanan. 

Ranil juga menambahkan kalau negara Asia Selatan tersebut tidak dapat membeli bahan bakar impor, bahkan untuk uang tunai. Karena hutang yang besar oleh perusahaan minyaknya.

"Kami sekarang melihat tanda-tanda kemungkinan jatuh ke titik terendah," kata Ranil, Kamis (23/6/2022) yang dikutip TVRINews.com di akun resmi Bloomberg.

Analisis suram muncul ketika pihak berwenang mengadakan pembicaraan dengan pemberi pinjaman yang berbasis di Washington untuk kesepakatan dana segar bagi negara yang bangkrut. Sri Lanka membutuhkan $6 miliar dalam beberapa bulan mendatang untuk menahan cadangannya, membayar tagihan impor yang membengkak, dan menstabilkan mata uangnya.

Sri Lanka telah menyelesaikan diskusi awal dengan IMF, dan bertukar pikiran tentang keuangan publik, keberlanjutan utang, sektor perbankan dan jaminan sosial. 

"Kami bermaksud untuk masuk ke dalam kesepakatan tingkat resmi dengan IMF pada akhir Juli," ujar Wickremesinghe.

Pihak berwenang juga sudah berencana untuk mengadakan konferensi bantuan kredit dengan negara-negara sahabat, termasuk India, Jepang dan Cina guna bantuan lebih lanjut.

Negara Asia Selatan itu, telah gagal menghentikan krisis ekonomi terburuk yang dihadapinya dalam sejarah kemerdekaannya. Kekurangan makanan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok yang berkepanjangan, berisiko mengoptimalkan protes dan dapat menghambat stabilitas politik lebih lanjut.

Pada Selasa (21/6) lalu, Hamilton Reserve Bank Ltd yang memegang lebih dari $250 juta dari 5,875% Obligasi Negara Internasional Sri Lanka yang jatuh tempo 25 Juli, mengajukan gugatan di pengadilan federal New York untuk meminta pembayaran penuh, pokok dan bunga setelah negara itu gagal bayar bulan lalu.

Baca Juga : Gelaran MXGP Samota, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas


Baca Juga

Berita Terkait

Rekomendasi untuk Anda

Komentar
1000 Karakter tersisa
Komentar

News Letter

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.