Jakarta Mengabdi, Komunitas Peduli Isu Sosial dan Pendidikan di Ibukota

Reporter: Naufal Lanten

TVRINews, Jakarta

Setiap manusia di dunia memiliki karakter berbeda, memiliki konsepsi kebahagiaannya masing-masing. Ada suka membantu, berbagi, berbuat baik dan banyak lagi.

Salah satu sosok inspiratif adalah seorang wanita asal Ibukota. Dia Alifah Pratisara Tenrisangka. 

Wanita ini biasa dipanggil Tisa. Dia pernah disindir teman-temannya. 

‘“Tis. Lu mengabdi tapi kenapa ke luar (kota) terus, yang di Jakarta mana?” kata Tissa kepada TVRINews.com menirukan celoteh temannya, Minggu (13/6/2021).

Atas dasar tersebut, Tissa kemudian tergugah hatinya menggagas komunitas sebagai pengabdiannya ke masyarakat.

Bersama rekan lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlanga, Tisa mendirikan komunitas. Namanya Jakarta Mengabdi berdiri sejak 7 Januari 2020.

Tisa penggagas sekaligus Ketua Umum Jakarta Mengabdi bercerita
sejak kuliah sudah gemar mengajar. Baginya mengajar menjadi kesenangan tersendiri.

Mengajar, kata Tisa, menjadi penghibur saat stres dengan kegiatan rutin. 

“Kalau kita yah melihat di week day, sibuk sama kegiatan lain, kerja gitu. Kita senangnya di sini, refreshing nya di sini. Jadi di sini kita happy sekali. Karena memang rilis stres ada di dunia kerja, dunia kuliah di sini. Jadi wadahnya anak-anak untuk seru-seruan, berbuat baik bareng,” ujarnya.

Wakil Ketua Jakarta Mengabdi, Bagas Purwa Wijayanto mengatakan, program pengabdian di komunitasnya berbeda dengan komunitas lain. Programnya memiliki alur terstruktur dari hulu hingga hilir. 

“Di awali dengan riset dahulu, ada di litbang (penelitian dan pengembangan). Kita penelitian ini ada beberapa opsi penjajakan. Setelah hasil kajiannya sudah ada, dilempar ke program strategis,dikaji dan dirumuskan program pengabdian apa saja (dalam) tiga bulan. Jadi kita sebelum pengabdian, benar-benar sudah terinci ke depan,” kata Bagas.

Setelah pengabdian selesai tiga bulan kata Bagas, tim divisi bina kampung melakukan monitoring berkala guna memantau situasi andai kampung yang telah dilakukan pengabdian membutuhkan tindakan lanjutan.

Program pengabdian Komunitas Jakarta Mengajar

Bagas menjelaskan, Jakarta Mengabdi memiliki empat pilar prinsip dasar, yakni Jakarta Peduli berfokus isu sosial di masyarakat, Jakarta Cerdas berfokus edukasi dan pendidikan, khususnya anak-anak, Jakarta Sehat berfokus kesehatan di kampung-kampung di Jakarta dan Jakarta Lestari berfokus pelestarian lingkungan dan budaya. 

Adapun Jakarta Cerdas, komunitas tersebut lebih berfokus pada kelas eksperimen dan pengembangan keahlian dasar. Caranya menerapkan konsep fun learning atau pembelajaran menyenangkan.

“Jadi nggak cuma mengajar secara formal, karena pasti sudah banyak komunitas yang memberikan itu. Jadi kita mencoba mengambil dari aspek lain, lebih ke praktik,” katanya.

“Kemarin kita buat gelembung lava dari sirup. Terus buat roket air. Jadi belajar fisika, tapi langsung praktik, nggak pakai teori-teori. Bikin lampu pakai baterai. Jadi, hal-hal yang sebenarnya pernah ada semasa SMA, dan sebenarnya menarik. Jadi kita coba ulas lagi dengan cara yang berbeda,”kata Bagas. 

Umumnya, peserta kegiatan belajar ini anak usia 6 hingga 12 tahun atau rentang antara SD hingga SMP. Antusiasme anak-anak belajar sangat tinggi. Sehingga materi pengajaran dapat diterima dengan baik. 

“Komunitas itu karena ini datangnya dari hati, supaya hati kita makin tergerakkan. Kita harus nyaman dulu sama orang, jadinya dibuat santai saja. Memang ada target, tapi tidak dibawa dengan terlalu serius,” ujarnya.

Dalam salah satu materi kelas, relawan sempat membuat ‘pohon impian’, pembelajaran anak-anak mengenal jenis profesi. Para relawan mengajarkan budaya tradisional dan beragam budaya dunia.

“Kita ajarkan saja supaya tidak lupa dengan identitasnya. Jadi program itu sebisa mungkin dibuat menarik.”

Anak-anak di Jakarta Mengabdi juga diberikan materi pendidikan seks dasar. Edukasi tersebut diberikan sesuai usia mereka. 

Edukasi itu diajarkan secara ringan menggunakan sentuhan lagu dan video. Tujuannya anak mudah memahami dan mengerti pesan yang disampaikan.

Kendala tersendiri

Dalam pelaksanaannya, komunitas ini memiliki sejumlah dinamika internal. Hal itu dipicu semangat pengurus hingga relawan yang tidak stabil.

Selain itu, masalah keuangan.
Tak jarang, para pengurus membiayai kegiatan komunitas ini.

“Masalahnya itu.Terlihat tidak besar tapi impact nya besar. Kita masih mencari partner karena belum punya donatur tetap,” kata Bagas.

Tujuan dan harapan Jakarta Mengabdi

Komunitas ini bertujuan agar para pemuda, khususnya di Jakarta dapat lebih proaktif membantu masyarakat. Diharapkan juga menjadi wadah para pemuda memberikan solusi berbagai masalah sosial. 

“Mungkin ke depan, kita membentuk yayasan. Kita berharap adanya Jakarta Mengabdi semakin banyak orang baik tergerak hatinya berbuat kebaikan untuk sesama,” tuturnya.

Jakarta Mengabdi sudah satu tahun lebih berdiri. Komunitas ini memiliki 130 personel terdiri dari 30 pengurus inti dan 100 volunteer atau relawan.

Program di  Komunitas ini bertujuan membantu masyarakat miskin secara moril dan materil. Kegiatannya sosial berdasarkan swadaya masyarakat.

Sampai saat ini, Jakarta Mengabdi sudah membina dua kampung, yakni Kampung Nelayan di Kali Adem, Muara Angke dan Kampung Gunung Balong, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

 

Editor: Dadan Hardian

Daerah