Kementerian Kesehatan Luncurkan Aplikasi agar Pasien TBC Tidak Tatap Muka dengan Petugas Kesehatan

Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. (foto istimewa)

Reporter: Christhoper N. Raja

TVRINews, Jakarta

Pandemi Covid-19 membuat angka penderita tuberkulosis (TBC) menurun. Namun diprediksi angka sebenarnya tetap tinggi. Hal ini ditengarai karena masyarakat enggan ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendeteksi TBC saat pandemi. Selain itu, fasilitas dan tenaga kesehatan tersita untuk pengobatan dan kegiatan penurunan penyebaran Covid-19.

Agar angka penyebaran TBC bisa diketahui dan pasien mendapat pelayanan kesehatan dengan baik, Kementerian Kesehatan menjalin kerja sama dengan Yayasan KNCV Indonesia. Keduanya meluncurkan aplikasi SOBAT TB dan EMPATI Client bagi mitra dan masyarakat. Peluncuran aplikasi ini dilakukan dalam memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia 2021, yang jatuh pada 24 Maret lalu. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyambut baik peluncuran kedua aplikasi ini untuk membantu pemerintah mencapai target penurunan angka penderita TBC. “Kita bisa menguatkan komitmen bersama dalam rangka mencapai eliminasi tuberkulosis pada 2030," katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/3/2021).

Menurut Nadia, Kementerian Kesehatan menyadari, selama pandemi Covid-19, banyak sekali program yang tidak bisa dilaksanakan atau belum berjalan dengan optimal. “Alhamdulillah, lahirnya berbagai macam inovasi, terutama yang terkait dengan teknologi digitalisasi ini, sangat membantu pelaksanaan program. Tadinya sebagian dilakukan secara tatap muka langsung, kini tidak lagi,” ujarnya.

Berdasarkan Global TB Report 2019, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang memiliki jumlah penderita TBC terbanyak kedua, setelah India. 

Upaya memutuskan rantai penularan adalah segera menemukan sumber penularan, yaitu menemukan penderita TBC, baik pasien sensitif obat maupun yang sudah resistan obat. “Menyisakan jumlah kasus yang tidak bisa ditemukan dan ditangani setiap tahunnya akan menambah beban pada tahun berikutnya," kata Nadia.

Editor: Eggi Paksha/Agus S. Riyanto

Daerah