‘PM Index’ Manufaktur Global dan Nasional Catat Angka Tertinggi sejak 2010

Reporter: Naufal Lanten

TVRINews, Jakarta

Kementerian Keuangan menyebutkan purchasing managersindex (PMI) manufaktur global, yang tercatat sebesar 55,8, kembali meneruskan penguatannya dan mencapai angka tertinggi sejak April 2010.
PMI manufaktur adalah indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan para manajer bisnis di sektor manufaktur, sehingga berdampak di pasar saham dan pasar forex atau valuta asing.

PMI manufaktur Indonesia tercatat di angka 54,6 pada April 2021. Angka tersebut meningkat dari catatan sebelumnya, yakni 53,2, pada Maret 2021, dan merupakan rekor dalam dua bulan berturut-turut. Momentum tersebut menggambarkan kenaikan output, permintaan baru, dan pembelian, serta permintaan ekspor yang kembali tumbuh setelah 16 bulan berkontraksi. 

“Angka PMI tersebut mencerminkan perbaikan nyata pada kondisi bisnis seiring dengan lonjakan permintaan baru dan kembalinya bisnis baru dari luar negeri,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu dalam keterangan yang diterima TVRINews.com, Selasa (4/5/2021).

Peningkatan PMI global didorong pertumbuhan solid di sisi new orders, new export business, dan employment. Adapun Eropa dan Amerika Serikat mencatat kinerja manufaktur yang kuat, yang didorong pertumbuhan new orders, seiring dengan kenaikan permintaan. 

PMI manufaktur Amerika Serikat mencatat angka tertinggi sejak Mei 2007, sebesar 60,5. Sedangkan PMI manufaktur negara lain di Benua Amerika, seperti Kanada (57,2) dan Brasil (52,3), masih berada dalam tren ekspansif meski angkanya turun dibanding bulan sebelumnya. 

Cina, dengan PMI manufaktur di angka 51,9, Jepang (53,6), dan India (55,5) berhasil mempertahankan tren positif yang didukung pertumbuhan pada tingkat permintaan.
Dari sisi regional, PMI manufaktur ASEAN menunjukkan performa yang bervariasi. Aktivitas manufaktur Indonesia dan Malaysia (53,9) berada pada zona ekspansif, tapi Filipina (49,0) kembali ke zona kontraksi akibat eskalasi Covid-19 yang memicu pengetatan restriksi. 

Secara global, efek gangguan supply chain masih dirasakan, yakni tekanan inflasi atas bahan baku masih tinggi dan menambah beban biaya produksi. 

“Namun tingginya optimisme bisnis di tengah percepatan vaksinasi diharapkan mempercepat pengendalian pandemi serta mendongkrak pemulihan permintaan global,” ujar Febrio.

Perusahaan manufaktur turut menaikkan volume produksi seiring dengan berbagai bisnis baru yang mengalami ekspansi tajam. Untuk itu, perbaikan volume pada produksi ini ke depannya diharapkan dapat meningkatkan tenaga kerja baru secara umum. 

Di sisi lain, volume produksi yang makin tinggi menimbulkan permintaan input yang lebih tinggi. Dengan pasokan yang relatif terbatas itu, akan terjadi peningkatan harga input yang berpengaruh terhadap harga jual kepada konsumen selama enam bulan terakhir. 

Secara umum, produsen di Indonesia masih sangat optimistis produksi akan terus menguat, yang didorong harapan bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir pada tahun depan.

“Pemerintah perlu menjaga momentum pemulihan dengan tetap menjaga daya beli masyarakat dan berkomitmen melanjutkan dukungan terhadap pelaku usaha. Pelaksanaan percepatan program vaksinasi nasional memperkuat optimisme pelaku bisnis sektor manufaktur terhadap prospek pemulihan ekonomi yang lebih cepat,” kata Febrio.

 

Editor:Agus S. Riyanto

Daerah