Tak Punya Biaya Operasi, Orangtua Bocah Hidrocefalus Pasrah

Rosadalima Gowa dan Maria di RSUD Aeramo Nagekeo

Reporter: Doni Moni

TVRINews,Nagekeo


Namanya Maria Keisha Wea. Ia tak seberuntung  bocah-bocah seusianya. 
Dalam pangkuan Rosadalima Gowa
ibunya, Maria panggilan bocah perempuan berusia 4 tahun ini, mungkin sejenak bisa melupakan rasa sakitnya. 

Tapi keseharian Maria hanya terbaring lemah di kasur RSUD Aeramo Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak usianya tiga bulan, bocah asal Desa Wolosambi, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo mengidap penyakit Hidrocefalus. 

Di RSUD Aeramo Nagekeo, Maria menanti untuk menjalani operasi, mengeluarkan kelebihan cairan di kepalanya. Sang ibu berkisah,
operasi yang diharapkan anaknya tidak bisa dilakukan. 

"Anak saya pernah menjalani operasi pada tahun 2019, atas bantuan dari salah satu Lembaga Sosial Masyarakat (LSM ) dari luar negeri. Sebagian cairan berhasil dikeluarkan dari kepalanya dengan memasang selang dari kepala ke saluran pencernaan," kata Rosadalima Gowa, Kamis (25/2/2021). 

Maria, kata ibunya, berangsur membaik setelah operasi pertamanya tahun 2019 di RS RKZ Surabaya. Cukup sehat dan aktif meski tidak dapat berbicara. 

Setahun berlalu. Dan Maria sering sekali kejang-kejang. 

Saat di Puskesmas Mauponggo, Ayah dan sang ibu, Rosadalima Gowa membawa anak mereka ke Puskesmas Mauponggo, lalu dirujuk ke RSD Aeramo. 

Dokter menyatakan, selang yang terpasang di dalam tubuh sudah  pendek karena pertumbuhan Maria. Selang tersebut sudah tidak berfungsi dengan baik.

"Selangnya harus segera diganti dan karenanya perlu operasi lagi untuk pemasangan selang baru, sekaligus mengeluarkan kelebihan cairan dari kepalanya,"ungkap Rosadalima Gowa mencoba untuk tak bersedih. 

Untuk kembali menjalani operasi,  mereka tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan biaya. 

"Anak kami harus segera operasi. Namun, biaya tidak ada. Dokter menyarankan agar Maria dirujuk ke RS Siloam Kupang untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Namun kami kesulitan biaya, sebab kami berdua hanyalah petani yang hidup sangat sederhana. Kami juga belum dapat mengurus KIS sebab karena beberapa alasan, kami belum dapat menikah secara resmi," aku Rosadalima Gowa 


Editor: Dadan Hardian